Jalan Tanah Abang Ditutup jadi 'Ancaman' Baru Pedagang Blok G

Riva Dessthania Suastha, CNN Indonesia | Sabtu, 23/12/2017 10:46 WIB
Jalan Tanah Abang Ditutup jadi 'Ancaman' Baru Pedagang Blok G Pemilik toko di sekitar Stasiun Tanah Abang dan Pasar Blok G, mengeluhkan kebijakan yang menutup jalan Jatibaru Raya karena berimbas pada pendapatan. (CNNIndonesia/Asfahan Yahsyi)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sejumlah pemilik toko di sekitar Stasiun Tanah Abang dan Pasar Blok G, mengeluhkan kebijakan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang menutup jalan Jatibaru Raya yang terletak di depan stasiun.

Penutupan jalan yang telah diujicobakan sejak Jumat (22/12) itu ditujukan untuk menempatkan ratusan Pedagang Kaki Lima (PKL) sehingga tidak lagi berjualan di sepanjang trotoar jalan.


Mariana, seorang pedagang baju anak di pasar Blok G, mengeluhkan kebijakan tersebut bisa merugikan pedagang pasar karena para pembeli lebih memilih mencari barang di area PKL dekat stasiun. Dia mengatakan sejak PKL dilegalkan di kawasan itu, pengunjung pasar jadi berkurang.


"Dulu ada saja yang cari barang kemari. Sekarang masih ada banyak tapi ya agak sepi," ucap wanita yang telah berjualan selama 10 tahun di pasar itu kepada CNNIndonesia.com pada Sabtu (23/12).

Mariana mengatakan sebelum kebijakan penutupan jalan berlaku, omzet per harinya pun masih tidak menentu karena persaingan dengan para PKL ilegal yang berjualan di trotoar. Dalam sehari, dia mengatakan bisa mendapat penghasilan sekitar Rp800 ribu sampai Rp1 juta.

Namun, dia mengatakan hanya bisa membawa pulang hasil sebesar Rp600 ribu saja pada Jumat lalu.

"Entah ya karena PKL atau tidak, tapi saya khawatir terus menurun [pendapatannya]," katanya.


Suasana di kawasan Tanah Abang usai ditutup. (CNN Indonesia/Ramadhan Rizki Saputra)


Membuat Lapak Sepi

Senada dengan Mariana, Gunawan, seorang pedagang sepatu di pasar tersebut, juga khawatir penutupan jalan Tanah Abang dalam jangka panjang bisa membuat pengunjung lapaknya sepi.

Dia menyayangkan kebijakan yang diterapkan Gubernur baru Anies Baswedan itu karena dinilai mengembalikan kebiasaan pedagang berjualan di jalanan. Padahal, sebelum membuka toko di Pasar Blok G, dia juga eks PKL di trotoar jalan stasiun.

Dia mengatakan jika penutupan jalan terus mempengaruhi hasil dagangnya, pria berusia 47 tahun itu akan kembali berjualan di jalan Jatibaru Raya.

"Dulu zaman Ahok enggak boleh jualan di sana makanya saya pindah ke sini. Kalau sekarang diperbolehkan ya saya juga mau turun [ke jalan] lagi," ujar Gunawan.



Selain menutup jalan Jatibaru Raya, Pemprov DKI Jakarta juga menyediakan sekitar 400 tenda bagi para PKL yang hendak berjualan di sana.

Para PKL pun harus terdata terlebih dahulu untuk bisa menggunakan tenda tanpa dipungut biaya. Pendataan dan penyediaan tenda dilakukan oleh Dinas Usaha Mikro, Kecil, Menengah (UMKM) DKI.

Dari dua jalur jalan yang tersedia, salah satunya ditutup total untuk digunakan sebagai tempat para PKL berjualan.

Sementara itu, salah satu jalur lainnya digunakan untuk bus Transjakarta yang disediakan pemda untuk mengakomodasi para pejalan kaki dan warga agar bisa tetap berkeliling wilayah Tanah Abang tanpa kesulitan.

PT Transjakarta juga telah menyiapkan 10 shuttle bus dilengkapi stiker Tanah Abang Explorer. Satu unit bus dapat menampung 66 penumpang.

[Gambas:Video CNN]

Cenderung Turun

Walaupun demikian, ternyata tak semua PKL juga senang dengan kebijakan ini. Sujono, salah satu pedagang pakaian wanita di kawasan itu mengaku penghasilannya tidak jauh berbeda, malah cenderung menurun setelah pindah berjualan di tenda.

Sebelumnya, Sujono mengatakan dia bisa mendapat penghasilan sekitar Rp1 juta selama 12 jam berdagang. "Kemarin baru coba, cuman dapat 700 ribuan," katanya.


Dia memprediksi hal ini terjadi karena kebijakan tersebut mendatangkan beberapa pedagang baru yang berjualan di sana.

Walau telah disediakan tenda, berdasarkan pantauan masih ada beberapa PKL kecil yang berjualan di trotoar jalan. Kebanyakan dari mereka mengaku tidak kebagian tenda dan tidak tahu harus kemana mendaftar agar bisa diberi izin berdagang di sana. (asa)