Penutupan Jalan Tanah Abang: 'Lebih Macet, Lebih Repot'

Riva Dessthania Suastha, CNN Indonesia | Sabtu, 23/12/2017 13:23 WIB
Penutupan Jalan Tanah Abang: 'Lebih Macet, Lebih Repot' Sejumlah pengguna jalan di kawasan Tanah Abang mengeluhkan penutupan ruas jalan yang dipakai untuk PKL. Sebagian mereka menganggap justru memperparah kemacetan. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Penataan kawasan Stasiun Tanah Abang, Jakarta Pusat, dianggap sejumlah warga khususnya pengendara kendaraan bermotor memperparah kemacetan di sekitarnya.

Sejak Jumat (22/12), Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menutup jalan Jatibaru Raya yang terletak di depan stasiun untuk menempatkan para Pedagang Kaki Lima (PKL) supaya tak lagi berjualan di trotoar.

Imbasnya, bagi pengendara kendaraan mobil atau motor yang kerap melewati jalan Jatibaru Raya terpaksa memutar lebih jauh untuk bisa mencapai tujuan.



"Terganggu banget karena jadi harus muter di depan blok G-B yang jelas-jelas lebih padat, lebih macet, lebih repot daripada lewat depan stasiun," ujar Iqbal, pengendara mobil yang tengah melewati ruas jalan Kebon Jati karena penutupan jalan, Sabtu (23/12).

Selain itu, karena kebijakan baru ini, Iqbal mengatakan ia harus menghabiskan waktu lebih lama untuk sampai tujuan karena harus memutar menghindari jalan Jatibaru.

"Blok B banyak banget angkot yang ngetem sedangkan yang lewat Tanah Abang kan enggak cuma kendaraan kecil aja, ada bus-bus jadi makin macet," katanya.

Penutupan Jalan Tanah Abang: 'Lebih Macet, Lebih Repot'Penutupan jalan di kawasan Tanah Abang digunakan untuk para pedagang kecil berjualan. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)

Sulit Menemukan Penumpang

Keluhan juga diungkapkan oleh seorang pengemudi taksi online, Widyawan, yang kerap mencari dan mengantar penumpang dari Stasiun Tanah Abang.

Pria 23 tahun itu juga mengatakan sejak penutupan jalan berlaku, dirinya menghindari melewati kawasan Tanah Abang karena padatnya kendaraan dan sulitnya menurunkan atau menjemput penumpang.

"Saya menghindari kawasan Tanah Abang karena macet, sama pasti susah ketemu sama penumpang. Saya saja baru dua kali narik dari sana dan kebanyakan di pasar blok B," ucapnya.


Selain pengendara kendaraan, sejumlah pejalan kaki khususnya penumpang kereta juga merasa kesulitan untuk berpindah alat transportasi.

Padahal, Pemda dan PT Transjakarta telah menyiapkam 10 armada bus shuttle untuk mengakomodasi para pejalan kaki dan warga agar bisa tetap berkeliling wilayah Tanah Abang. Satu unit bus dapat menampung 66 penumpang.

"Jadi jauh kalau mau sambung ke alat transportasi lain atau pesan ojek online, harus jalan kali dulu karena belum tentu searah dengan busway. Belum lagi kalau rush hour dan kondisi hujan," kata salah satu pengguna commuter line asal Depok, Diana.


Perempuan 27 tahun itu biasa turun di Stasiun Tanah Abang dan lalu menggunakan metro mini atau ojek online untuk sampai ke kantornya di kawasan Cideng, Jakarta Pusat.

Penutupan jalan Jatibaru Raya telah diberlakukan sejak Jumat kemarin dan akan diujicobakan selama dua minggu. Penutupan akan berlangsung setiap hari selama 10 jam sejak pukul 08.00 sampai 18.00. (asa)