Operasi Mata Novel Baswedan Ditunda Dua Bulan

Tiara Sutari, CNN Indonesia | Rabu, 27/12/2017 15:57 WIB
Operasi Mata Novel Baswedan Ditunda Dua Bulan Novel Baswedan akan menjalani operasi mata kedua pada tahun 2018. Dia akan menetap di Singapura untuk sementara waktu hingga kondisi mata membaik. (Screenshoot via Instagram/@spripimpoldametro)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kondisi mata penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan belum membaik. Novel telah menjalani operasi mata pada 6 Desember 2017.

Seharusnya Novel segera menjalani operasi lanjutan setelah operasi pertama, tapi, karena belum ada perkembangan signifikan, operasi kedua Novel ditunda hingga beberapa bulan ke depan.

"Ditunda hingga dua bulan ke depan," kata juru bicara KPK Febri Diansyah di gedung KPK, Jakarta, Rabu (27/12).


Febri menuturkan, sejak operasi pertama pertumbuhan jaringan pada mata kiri Novel baswedan belum maksimal. Lambatnya pertumbuhan mata ini menyebabkan operasi tahap dua yang rencananya akan segera dilakukan harus ditunda.

"Pertumbuhan mata di bagian putihnya belum maksimal. Sedangkan, operasi di bagian yang hitam itu baru bisa dilakukan setelah pertumbuhan bagian putih mata maksimal," kata Febri.

Febri mengatakan, Novel kemungkinan akan menetap di Singapura hingga 2018 untuk menjalani perawatan lanjutan.
[Gambas:Video CNN]
Meski Novel masih menetap di Singapura, KPK berharap proses hukum terkait penyerangan Novel Baswedan tetap dilanjutkan.

Dia juga berharap hasil penyelidikan yang dilakukan pihak kepolisian bisa segera keluar. Hal itu kata Febri, untuk mencegah ancaman berulang yang dilakukan oknum terhadap penyidik KPK.

"Kami harap pelaku ditemukan dan diproses serta peristiwa penyerangan dapat segera diungkap agar teror, ancaman, dan serangan terhadap pihak-pihak yang memberantas korupsi tidak terjadi lagi ke depan," ujar Febri.

Novel Baswedan disiram air keras 11 April 2017, usai keluar dari Masjid di dekat rumahnya di kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara. Hingga kini polisi telah memeriksa ratusan saksi. Namun, polisi belum dapat menangkap pelaku.

Pada Oktober 2017, Kapolri Jenderal Tito Karnavian menyebut, pengungkapan kasus Novel lebih berat ketimbang kasus bom Bali, karena penyiraman terhadap Novel masuk kategori kasus hit and run yang hanya meninggalkan sedikit jejak.

Pada 24 November 2017, Polda Metro Jaya merilis dua sketsa yang diduga pelaku penyerangan terhadap Novel Baswedan. 

"Kalau dari hasil keterangan saksi ini, mengarah sudah 90 persen bahwa dua gambar tadi itu diduga terlibat penyiraman saudara Novel Baswedan," kata Kapolda Metro Jaya Inspektur Jendral Idham Azis di gedung KPK, Jakarta, Jumat (24/11). (ugo/djm)