Dedie menerima pinangan Bima Arya untuk mendampingi maju dalam Pemilihan Wali Kota Bogor 2018. Bima merupakan petahana Wali Kota Bogor, yang juga kader Partai Amanat Nasional (PAN). Sementara Dedie seorang profesional yang sudah sekitar 12 tahun berkarier di lembaga antirasuah.
Jabatan terakhir Dedie di KPK adalah Direktur Pembinaan Jaringan dan Kerja Sama Antar Komisi dan Instansi. Dia sudah sempat beberapa kali mengisi jabatan struktur lainnya di KPK.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya melihatnya begini, ini tanggung jawab saja. Saya melihat tentu Bogor itu kan ingin dibawa ke arah yang lebih baik," kata Dedie kepada CNNIndonesia.com, saat ditanya soal tujuannya mendampingi Bima pada Pilwalkot Bogor.
Begitu juga dengan mantan Wakil Ketua KPK, Bambang Widjojanto dan Adnan Pandu Praja setelah selesai menjabat memilih menjadi tim sukses pasangan Anies Baswedan dan Sandiaga Uno di Pilgub DKI Jakarta.
"Jadi saya pikir, saya mengambil langkah ini (mengundurkan diri dari KPK) justru untuk memberi contoh dan kedua menghindari benturan kepentingan," ujarnya.
Ketua KPK Agus Rahardjo telah merestui anak buahnya ikut dalam Pilwalkot Bogor 2018 mendampingi Bima.
Agus mengaku tak ada alasan bagi pimpinan KPK untuk menolak pengunduran diri yang diajukan Dedie pada 27 Desember 2017 lalu.
"Pimpinan KPK setuju, merestui dan mendukung, agar pak Dedie Rachim bisa membantu mewujudkan pemerintahan yang efektif, dan bersih, serta bebas KKN, dalam waktu yang tidak terlalu lama di kota Bogor," kata dia.
Bima Arya resmi menunjuk Dedie untuk mendampingi dirinya pada Pilwalkot Bogor mendatang. Bima mengatakan, Dedie merupakan sosok profesional dan berintegritas.
Untuk mengusung Bima-Dedie, PAN perlu melakukan koalisi dengan partai lain lantaran hanya memiliki tiga kursi DPRD Kota Bogor. Syarat pencalonan Wali Kota Bogor membutuhkan sembilan kursi DPRD.