Gerindra Anggap Mustahil Duet Jokowi-Prabowo di Pilpres 2019

Joko Panji Sasongko, CNN Indonesia | Rabu, 03/01/2018 14:28 WIB
Gerindra Anggap Mustahil Duet Jokowi-Prabowo di Pilpres 2019 Gerindra masih memperjuangkan Prabowo Subianto menjadi calon Presiden di Pemilu 2019. (CNN Indonesia/Christie Stefanie)
Jakarta, CNN Indonesia -- Partai Gerindra menilai mustahil bagi ketua umum Prabowo Subianto berduet dengan Joko Widodo di Pemilihan Presiden 2019. Keduanya diklaim memiliki perbedaan prinsip dalam mengelola negara.

Wakil Ketua Umum DPP Gerindra Ferry Juliantono mengatakan, Gerindra sampai saat ini masih optimis Prabowo akan maju sebagai calon presiden dalam Pilpres 2019.

“Meski Pak Prabowo belum secara resmi mengumumkan, tapi kami semua keluarga besar Gerindra masih ingin supaya Pak Prabowo nanti di 2019 jadi capres,” ujar Ferry saat dihubungi, Rabu (3/1).


Ferry menerangkan, mustahilnya duet Jokowi-Prabowo karena ada perbedaan dalam prinsip mengelola negara.

Ia berkata, Jokowi sangat berpihak kepada negara asing dan mengesampingkan kemampuan masyarakat dalam mendukung segala programnya.

Cara Jokowi itu, menurut Ferry, bertolak belakang dengan prinsip yang dipegang oleh Prabowo.

“Pak Jokowi kan di sisi yang lain sebenarnya sangat berseberangan. Oleh Karena itu dari sisi Gerindra memunculkan figur Pak Prabowo dan kami membangun koalisi dengan partai lain,” ujar Ferry.

Hal lain yang membuat sulit duet Jokowi-Prabowo adalah pergeseran perilaku pemilih. Ferry menilai kualitas pemilih saat ini lebih berorientasi pada nilai ketimbang uang. 

Sikap pemilih yang seperti itu diyakini lebih memberi peluang bagi Prabowo terpilih menjadi presiden di Pilpres tahun 2019 sehingga sulit untuk menduetkan mantan Danjen Koppasus itu dengan Jokowi.

Wacana duet Jokowi-Prabowo muncul dari hasil survei lembaga Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) yang dirilis kemarin, Selasa (2/1).

SMRC dalam hasil surveinya menyatakan bahwa responden menyambut baik opsi duet Presiden Joko Widodo dan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto di Pilpres 2019.

"Ada keinginan di masyarakat untuk menggabungkan Jokowi dan Prabowo di 2019. Mayoritas setuju," kata Direktur Utama SMRC Djayadi Hanan di Jakarta.

Dari survey SMRC, kata Djayadi, sebanyak 67 persen atau mayoritas responden setuju bila Prabowo dijadikan Cawapres mendampingi Jokowi. Sementara hanya 28,4 persen yang setuju jika Prabowo menduduki posisi calon presiden dan Jokowi sebagai calon wakil presiden.

Ferry menyatakan partainya tidak percaya dengan hasil survei SMRC tersebut.

Dalam menangkap kehendak publik, kata Ferry, Gerindra memiliki lembaga survei internal yang hasilnya dianggap lebih valid daripada SMRC dan lembaga survei lainnya.

“Saya kurang mempercayai hasil SMRC aatau lembaga survei lain. Kami punya hasil survei internal sendiri yang memang tidak kami publikasikan,” ujarnya, (wis/gil)