Menilik Motif La Nyalla Blak-Blakan Soal Prabowo Minta Mahar

Oscar Ferry , CNN Indonesia | Jumat, 12/01/2018 15:47 WIB
Menilik Motif La Nyalla Blak-Blakan Soal Prabowo Minta Mahar La Nyalla membuat pengakuan dirinya diminta Prabowo Subianto mahar Rp40 miliar terkait Pilgub Jatim. Blak-blakan La Nyalla itu dinilai punya motif tertentu. (CNN Indonesia/Joko Panji Sasongko).
Jakarta, CNN Indonesia -- Mantan Ketua Umum PSSI La Nyalla Mahmud Mattalitti mengaku diminta uang saksi Rp40 miliar oleh Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto terkait Pemilihan Gubernur Jawa Timur (Pilgub Jatim) 2018.

Pengamat politik dari Universitas Indonesia, Cecep Hidayat mempertanyakan soal pengakuan La Nyalla tersebut. Sebab, selama ini amat jarang ada seorang kandidat yang mau membuka secara gamblang soal mahar politik.

"Kenapa dibuka, blak-blakan ke publik? Toh masing-masing tahu sama tahu. Amat jarang seorang kandidat mau kasih tahu (mahar). Ada message apa? Dalam rangka apa (La Nyalla) ingin buka ke publik?" kata Cecep kepada CNNIndonesia.com, Jumat (12/1).

Cecep menduga, La Nyalla punya motif lain di balik blak-blakannya membuka mahar politik yang diminta Prabowo ini. Salah satunya tak lepas dari elektabilitas Prabowo terkait Pilpres 2019.

"Pesannya bisa, wah Prabowo minta uang. Kan ini bisa menurunkan citra Prabowo. Pengungkapan ke publik ini bisa menurunkan elektabilitas Prabowo," ucapnya.

Tudingan mahar politik di Pilgub Jatim dinyatakan La Nyalla Mattalitti yang sebelumnya santer disebut bakal diusung Gerindra. Ia sudah mendapat surat tugas dan diminta mencari partai pengusung. Namun belakangan La Nyalla mengembalikan surat tugas tersebut.

Dalam pernyataannya kemarin, La Nyalla mengaku dimintai uang Rp40 miliar sebagai biaya saksi. Dalam perhitungannya, biaya saksi dibutuhkan sekitar Rp28 miliar dengan rincian Rp200 ribu untuk dua orang saksi di 68 ribu tempat pemungutan suara.

Namun La Nyalla belum mau menyerahkan uang tersebut sebelum surat rekomendasi dari Gerindra turun. Ia baru mau menyerahkan uang bila sudah resmi diusung. Karena itu ia menilai uang tersebut tak lain adalah mahar untuk membeli rekomendasi Gerindra.

Atas perlakuan yang diterimanya itu, La Nyalla menyatakan keluar dari Gerindra dan tak akan lagi mendukung Prabowo di Pilpres 2019. Dalam dua pilpres sebelumnya (2009 dan 2014), La Nyalla mengaku mendukung Gerindra dengan menggunakan dananya sendiri.

Wakil Ketua Umum Gerindra Arief Poyuono sebelumnya menepis pernyataan La Nyalla. Arif membantah ada permintaan mahar dari Prabowo ke La Nyalla.

"Tidak ada permintaan uang dalam surat rekomendasi terhadap La Nyalla," kata Arief kepada CNN Indonesia.com.

Lagipula, kata Arief, uang Rp40 miliar yang dimaksud itu akan digunakan untuk logistik Pilkada Jatim. "Untuk pembiayaan saksi saja butuh Rp100 miliar. Itu kalaupun lisan dimintai uang, nanti sisanya Gerindra yang menambahkan kekurangannya," kata Arief, Kamis (11/1).

Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon juga membantah tudingan La Nyalla. Dia mengaku tidak pernah atau menemukan bukti soal mahar dimaksud.

"Saya kira kalau dari Pak Prabowo tidak ada ya‎ itu, saya tidak pernah dengar‎ dan juga menemukan bukti semacam itu ya," ujar Fadli.

Fadli memperkirakan uang yang dimaksud untuk kesiapan La Nyalla membiayai logistik dan saksi untuk pilkada. Dia mengatakan, Prabowo tidak pernah meminta uang untuk kepentingan pribadi maupun partai kepada calon di pilkada.

Sebab, menurut Fadli, untuk mengarungi Pilkada Jawa Timur, logistik yang dibutuhkan untuk transportasi serta saksi tidak sedikit. Karena, luas wilayah dan jumlah kabupaten/kota serta penduduknya yang cukup besar.

"Jadi saya kira wajar, bukan untuk kepentingan pribadi atau partai, tapi kepentingan yang bersangkutan," katanya.

Sementara politikus Gerindra Desmond Junaedi Mahesa menilai, tudingan mahar itu untuk kepentingan La Nyalla mencari popularitas.

"(Pernyataan) itu lucu, hanya untuk mencari popularitas saja," kata Desmon. (osc/djm)