Hal itu diungkapkan oleh Ashraf Ali, Ketua Fraksi Golkar DPRD DKI Jakarta ketika dihubungi oleh CNNIndonesia.com, Selasa (16/1). Ia juga mengatakan pencairan dana itu tidak untuk semua barang sehingga jumlah uang yang nantinya bisa dicairkan pun tidak besar.
"Saya kira kalau pencairannya total gitu ya rasa-rasanya nggak mungkin. Saya kira paling satu item saja dan saya kira itu efektif. Jadi setahu saya pencairan langsung itu enggak buat semua, total paling item tertentu saja," tutur Ashraf Ali.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:Sandiaga Rencanakan KJP Bisa Tarik Tunai |
"Kebutuhan penunjang. pendidikan itu bukan hanya buku, seragam, dan sejenisnya tapi juga uang transportasi, fotokopi, dan lainnya," kata Rifkoh.
Sementara itu, Steven Setiabudi Musa dari Fraksi PDI-P menganggap rencana ini sebagai langkah mundur. Bahkan dia menilai, program Gubernur Aneis Baswedan ini bukan KJP Plus, tetapi KJP 'Minus'.
"Ini bukan KJP Plus namannya ini KJP Minus," kata Steven.
Sebelumnya, Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno menyatakan akan membuat Kartu Jakarta Pintar (KJP) bisa dimanfaatkan untuk tarik tunai, sebagaimana janjinya di era kampanye Pilkada DKI 2017 lalu.
Dia beralasan, warga penerima KJP belum siap melakukan transaksi non-tunai. "Masyarakat masih kesulitan menerima sistem cashless," kata Sandi pada Senin (15/1).
Di sisi lain, orang tua penerima bantuan KJP mengaku takut kemudahan untuk mengakses uang tersebut nantinya disalahgunakan.
"Takut nantinya saya pakai uangnya untuk hal yang kurang penting," kata Hartati, ibu anak penerima Dana KJP yang berprofesi sebagai penjual jamu ketika ditemui di kawasan Mampang, Jakarta Selatan.
Pihak Pemprov sendiri secara keseluruhan telah menggunakan sistem pembayaran non-tunai. Saat Gubernur DKI Jakarta dijabat oleh Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok, sistem KJP menerapkan pelarangan tarik tunai. Aturan ini dibuat agar anggaran untuk siswa tidak disalahgunakan oleh para orangtua siswa penerima KJP. (asa/asa)