Kader Ditembak Mati, Gerindra Minta Polisi Bertindak Adil

Prima Gumilang, CNN Indonesia | Senin, 22/01/2018 09:38 WIB
Kader Ditembak Mati, Gerindra Minta Polisi Bertindak Adil Ketua DPP Gerindra Bidang Advokasi Habiburokhman meminta polisi mengusut tuntas kasus penembakan kadernya. (CNN Indonesia/Denny Aprianto)
Jakarta, CNN Indonesia -- Ketua DPP Gerindra Bidang Advokasi Habiburokhman meminta aparat kepolisian bertindak adil dalam menuntaskan kasus penembakan kader Gerindra Fernando ALan Joshua Wowor oleh oknum Brimob.

Fernando tewas ditembak saat bersitegang dengan oknum polisi, Briptu AR, di area parkir diskotek Lipss Club Bogor, Sabtu (20/1) dini hari. Habiburokhman menyatakan, kepolisian harus mengusut kasus tersebut hingga tuntas.

Dia merasa ganjil dengan tindakan polisi yang memeriksa rekan-rekan korban karena laporan kubu pelaku. Pasalnya, calon istri pelaku yang berada di lokasi kejadian melaporkan peristiwa tersebut ke polisi atas kasus pengeroyokan.

"Kemarin, saya kaget, rekan korban ternyata diperiksa atas laporan kubu pelaku karena dianggap melakukan pengeroyokan setelah penembakan tersebut," kata Habiburokhman kepada CNNIndonesia.com, Senin (22/1).


Dia heran, kasus penembakan yang menewaskan kadernya belum diselidiki, namun polisi justru mengusut kasus pengeroyokan tersebut.

"Kami minta agar polisi fair. Mana yang lebih dulu terjadi, harus proporsional," kata Habib.

Menurutnya, kasus tersebut termasuk pelanggaran pasal 338 KUHP yang berbunyi, "Barang siapa dengan sengaja merampas nyawa orang lain, diancam karena pembunuhan dengan pidana penjara paling lama lima belas tahun."

Kasus ini, kata Habiburokhman, bukan delik aduan. Menurutnya, polisi wajib mengusut kasus tersebut meskipun tanpa ada aduan hukum.

"Tugas kami hanya mengawal, memastikan kasus tewasnya kader kami ini berjalan sesuai dengan fakta yang ada, dan mengacu pada peraturan yang berlaku," katanya.


Habiburokhman menyebut pihaknya akan mengawal kasus ini di dua tingkat, yaitu soal kedinasan dan kasus pidana. Dalam konteks penyidikan, pihaknya akan terus meminta surat pemberitahuan perkembangan hasil penyidikan (SP2HP) secara reguler ke polri.

"Soal kedinasan, kami ingin pantau. Ini ada orang meninggal karena penggunaan senjata, kalau dia bersalah harus dihukum," tegasnya.

Kasus ini bermula dari cekcok yang melibatkan anggota polisi dengan kader Gerindra pada Sabtu dini hari. Saat itu, mobil yang ditumpangi kader Gerindra diadang pengendara motor besar BMW yang diduga adalah anggota Brimob.

Kontak fisik sempat terjadi setelah oknum polisi itu menodongkan pistol. Rekan korban dan warga sekitar sempat terlibat keributan. Namun akhirnya tembakan meletus di tubuh Fernando.

Akibat kejadian itu, anggota Brimob mengalami kritis dan kini masih dirawat di RS Polri, Kramatjari, Jakarta. Sementara korban sipil yang merupakan kader Gerindra meninggal kareka luka tembak.

Kepala Bidang Hukum Kepolisian Daerah Jawa Barat Komisaris Besar Bagus Pramono mengatakan, pihaknya telah mengamankan sejumlah barang bukti dan beberapa saksi.