Sweeping Laskar FPI di Pamekasan Atas Koordinasi Mabes LPI

Prima Gumilang & Wishnugroho Akbar, CNN Indonesia | Senin, 22/01/2018 16:55 WIB
Sweeping Laskar FPI di Pamekasan Atas Koordinasi Mabes LPI Aksi Laskar FPI saat menolak tempat prostitusi di halaman Pendopo Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur, Senin (22/1). (ANTARA FOTO/Saiful Bahri)
Jakarta, CNN Indonesia -- Aksi penyisiran (sweeping) oleh Laskar Pembela Islam di Pamekasan, Madura, yang berujung bentrok dengan warga dilakukan setelah berkoordinasi dengan Markas Besar Laskar Pembela Islam di Jakarta.

Hal itu ditegaskan oleh Panglima Besar LPI Maman Suryadi saat dihubungi CNNIndonesia.com, Senin (22/1).

"Sudah (koordinasi)," ujar Maman.


LPI merupakan laskar yang berdiri di bawah organisasi Front Pembela Islam (FPI). Pada Jumat (19/1), LPI diberitakan Antara melakukan penyisiran di Desa Ponteh, Kecamatan Galis, Pamekasan, Madura.

Penyisiran dilakukan setelah LPI menduga di desa itu ada salah satu rumah warga yang dijadikan tempat prostitusi ilegal. 

Masyarakat setempat melakukan perlawanan sehingga menyebabkan bentrok yang membuat 10 orang termasuk ibu-ibu dan anak di bawah umur mengalami luka.

Maman menyatakan, selain berkoordinasi dengan LPI Pusat, LPI Pamekasan juga berkoordinasi dengan kepolisian. Atas dasar itu, ia membantah jika anak buahnya disebut melanggar prosedur hukum.

"LPI tidak liar," tuturnya.

Lebih lanjut, Maman mendesak aparat penegak hukum untuk menertibkan praktik maksiat di Pamekasan.

Maman tak menyebut jenis praktik maksiat yang terjadi di Pamekasan. Namun, dia mengingatkan, ada yang ingin merusak Madura. Maman juga menyatakan pihaknya siap menerima segala risiko atas aksi yang dilakukan anak buahnya di Pamekasan.

"Perlawanan (warga Pamekasan) itu risiko perjuangan. Kita siap hadapi," kata Maman.

Dihubungi terpisah, juru bicara FPI Slamet Maarif menolak penggunaan kata 'sweeping' atas insiden yang melibatkan LPI di Pamekasan.

"Bukan sweeping. Tabayyun (mencari kejelasan yang sebenarnya)," ujar Slamet.

Panglima LPI Madura Abdul Aziz Muhammad Syahid mengatakan, pihaknya melakukan aksi penyisiran sebagai upaya mengamalkan ajaran Islam.

"Ini jelas bertentangan dengan syariat Islam, serta visi misi Kabupaten Pamekasan yang telah menjalankan syariat Islam melalui program Gerakan Pembangunan Masyarakat Islami (Gerbang Salam)," ujar Aziz.

Kasus sweeping LPI yang berujung bentrokan tersebut kini ditangani Polres Pamekasan. 

Kasat Reskrim Polres Pamekasan AKP Hari Siswo mengatakan, pihaknya telah mengantongi sejumlah barang bukti terkait bentrokan itu. Beberapa di antaranya pecahan kaca mobil LPI yang dirusak warga, sejumlah pentungan yang diduga dibawa anggota Laskar, serta alat serbuk cabai yang digunakan pasukan LPI saat melakukan penyisiran.

Hari Siswo mengkategorikan aksi sweeping itu sebagai kasus kekerasan atas nama agama yang meresahkan masyarakat. Ia menyatakan bakal mengusut tuntas kasus itu.

"Kasus LPI ini sama halnya dengan mengabaikan peran aparat keamanan dan aparat penegak hukum di negeri ini," ujar Hari Siswo. (wis)