Kader Golkar Kenal Pengatur Proyek Bakamla dari TB Hasanuddin

Priska Sari Pratiwi, CNN Indonesia | Kamis, 01/02/2018 04:25 WIB
Fayakhun Andriadi, politikus Golkar, mengaku berhubungan dengan pemain proyek di Bakamla karena dikenalkan oleh seniornya, TB Hasanuddin. Poltikus Partai Golkar Fayakhun Andriadi (tengah), di gedung KPK, Jakarta, 2017. Ia mengaku menjalin kontak dengan terduga pemain proyek di Bakamla karena difasilitasi politikus lain, Tb. Hasanuddin. (Foto: ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan)
Jakarta, CNN Indonesia -- Politikus Partai Golkar Fayakhun Andriadi mengaku mengenal Ali Fahmi Habsyi, staf khusus Kepala Badan Keamanan Laut (Bakamla) Laksamana Madya Arie Soedewo yang diduga mengatur proyek satelit dan pesawat nirawak atau drone di Bakamla, melalui politikus PDI Perjuangan Tubagus Hasanuddin.

“Awalnya saya tidak kenal Fahmi, kemudian dikenalkan senior saya TB. Hasanudin,” aku dia, saat bersaksi dalam sidang kasus suap Bakamla bagi terdakwa Nofel Hasan di Pengadilan Tipikor Jakarta, Rabu (31/1).


Perkenalan itu berawal ketika Komisi I DPR menggelar rapat dengan Bakamla. Sebagai anggota Komisi I DPR, Fayakhun turut serta dalam rapat tersebut. Ia mengaku dihampiri TB. Hasanudin dan Ali Fahmi.


“Ali Fahmi dikenalkan sebagai kader PDIP dan tenaga ahli di Bakamla. Kemudian dia minta nomor telepon saya,” kata Fayakhun di hadapan hakim Tipikor Jakarta.

Usai pertemuan tersebut, Fayakhun menyebut, Ali kerap menghubungi untuk meminta bantuan. Lantaran segan dengan TB. Hasanuddin, Fayakhun pun bersedia menemui Ali. Dalam pertemuan itu, Ali meminta bantuan agar Komisi I mendukung proyek di Bakamla. Namun ia membantah membahas soal anggaran untuk Bakamla.

“Dia ajak ketemu lagi tapi saya menghindar,” dalihnya.


Nama Ali sebelumnya muncul dalam surat dakwaan sebagai pihak yang menawarkan PT. Melati Technofo Indonesia (MTI) — perusahaan pemenang tender proyek Bakamla untuk main proyek dalam pengadaan pemantauan satelit dan drone di Bakamla.

Ali disebut meminta imbalan atau fee 15 persen untuk memenangkan proyek tersebut. PT. MTI akhirnya ditetapkan sebagai pemenang lelang pengadaan proyek dengan total anggaran Rp222,43 miliar.

Sementara, saat masih menjadi anggota Komisi I DPR, dalam persidangan Fayakhun disebut meminta uang US$300 ribu untuk keperluan Munas Golkar tahun 2016 kepada Erwin Arif, pengusaha PT Rohde & Schwarz Indonesia, vendor yang digunakan PT. MTI.


Dikonfirmasi terpisah, TB Hasanuddin mengakui bahwa perkenalan dirinya dan Fayakhun dengan Ali Fahmi adalah perkenalan biasa pada saat kunjungan pertama Komisi I ke kantor Bakamla. Ketika itu, Hasanuddin menjadi pimpinan rombongan Komisi I dalam kunjungan ke Bakamla. Bakamla sendiri saat itu merupakan lembaga yang baru diresmikan Presiden dan menjadi mitra Komisi I.

"Saya ketemu saudara Fahmi di kantor Bakamla dan konon sudah jadi staf khusus Bakamla. Lalu kita kenalan, dan bukan hanya dengan saudara Fayakhun saja," ujar pria yang saat ini sedang berkompetisi dalam Pilgub Jabar berpasangan jenderal polisi,
 Anton Charliyan. (arh/djm)