"Iya benar (ke rumah Kapolri). Itu masalah video yang viral itu," kata Hamdan saat dikonfirmasi, Rabu (31/1).
Dia menerangkan, sekitar delapan orang perwakilan dari Syarikat Islam akan ikut dalam pertemuan dirinya dengan Tito.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Iya ingin mengklarifikasi, sudah janjian," katanya.
Pernyataan itu diprotes oleh Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (MUI) Tengku Zulkarnain dalam akun facebooknya.
"Sikap dan pengetahuan Anda (Tito) tentang hal Ini sangat mengecewakan. Ada banyak Ormas Islam di luar NU dan Muhammadiyah yang ikut berjuang mati-matian melawan penjajah di seluruh wilayah Indonesia dari Aceh sampai Halmahera," kata Tengku.
Kepada CNNIndonesia.com, Ahmad Sadeli mengaku khawatir pidato Tito itu melahirkan tindak diskriminasi dari aparat kepolisian.
“Meminta klarifikasi dan maaf. Kapolri harus melindungi bangsa sebagai representasi pemerintah untuk lindungi bangsa, itu ada dalam UUD 1945, preambulenya. Harus seluruh bangsa ini dilindungi dan diperhatikan sehingga tidak diskriminasi,” kata Ahmad Sadeli.
"Itu sudah dipotong-potong, jadi kalimat tidak utuh. Bagaimana kalimat tidak utuh berarti pesan tidak utuh juga," kata Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigadir Jenderal Mohammad Iqbal. (wis/gil)