Gengsi Pelaut Jadi Sopir Taksi Online Picu Pelecehan

Gloria Safira Taylor, CNN Indonesia | Kamis, 15/02/2018 04:31 WIB
Gengsi Pelaut Jadi Sopir Taksi Online Picu Pelecehan Ilustrasi pelecehan seksual. Seorang pengemudi taksi online, AN, mengaku melakukan pelecehan seksual karena tersinggung oleh ucapan penumpang. (Foto: ThinkStock/Somkku)
Jakarta, CNN Indonesia -- Posisi sebagai perwira pelaut sekaligus menjadi sopir taksi daring atau online paruh waktu memicu rapuhnya harga diri Angrizal Noviandi (30). Dia merasa gengsi sehingga sindiran dari penumpang memicunya melakukan pelecehan.

Saat memasuki ruang Kanit IV Resmob Ditreskrimum Polda Metro Jaya, Jakarta, Selasa (13/2) malam, Angrizal berjalan pincang akibat menerima tembakan di kaki dari kepolisian.

Saat itu, ia berkaus hitam dan celana jin pudar dengan sobekan di bagian lututnya. Wajahnya terlihat datar tanpa rasa sedih. Sesekali ia melempar senyum.


Ia bercerita selama kurang lebih dua tahun menjadi pelaut dan bertugas sebagai perwira navigasi. Tugasnya mengatur muatan, bertanggung jawab terhadap anak buah kapal bagian dek, mengawasi second officer dalam merancang rencana pelayaran, hingga membantu tugas nakhoda dalam proses dokumen soal kapal.

Dua bulan terakhir, dia mencari nafkah dengan menjadi sopir taksi daring dengan menggunakan akun kawannya bernama Dimas. Hal itu dilakukan sembari menanti jadwalnya berlayar datang.

Sejak saat itu, dia mengaku mengalami pergolakan batin. Rasa tidak percaya diri mendominasi karena menjadi sopir.

"Mungkin karena saya pelaut, saya sedang bermasalah dengan diri saya yang tidak senang saat ini hanya sebagai sopir. Rasa gengsi saya sebagai pelaut, saya bersalah," kata dia.

Sejumlah pengemudi taksi daring (online) dari berbagai komunitas melakukan aksi unjuk rasa di depan Istana Negara, Jakarta, Selasa (14/2).Para pengemudi taksi daring (online) melakukan aksi unjuk rasa Peraturan Menteri Perhubungan soal taksi daring di depan Istana Negara, Jakarta, Selasa (14/2). (Foto: ANTARA FOTO/Aprillio Akbar)
Di saat mengalami masalah harga diri berlarut-larut itu, Angrizal menerima pesanan angkutan pada Senin (12/2) subuh dari perempuan berinisial ABK dengan tujuan Bandara Soekarno-Hatta. Saat itu, dia mengaku dalam kondisi kurang tidur.

"Waktu itu lagi di Kalimalang. Istirahat di pom bensin, terus bunyi [handphone, tanda pesanan mengantar masuk] untuk antar saudara cewek [ABK] ini ke bandara. Itu dalam perjalanan karena pagi, kurang istirahat saya ngantuk juga, dia juga enggak bilang terminal berapa," papar dia.

Saat melaju menuju bandara, Angrizal membawa ABK ke jalan perimeter. Kondisi di jalan itu sepi dan gelap. Saat itulah, ABK mempertanyakan maksud dirinya membawa kendaraan ke jalanan yang sunyi dengan nada tinggi.

"Sampai ke Perimeter, dia bingung, 'Pak, kok ini jauh ya sampai ke Perimeter, Bapak sengaja ya? Mau apain saya? Buru-buru, Pak, pesawatnya nanti ini [telat]'," ucap dia, menirukan perkataan ABK.

Karena ucapan tersebut, harga diri Angrizal tersinggung. Ia langsung turun dari kendaraan dan mencoba mengambil koper penumpangnya di kursi belakang sekaligus menyuruhnya untuk turun di lokasi tersebut. Terjadilah pertengkaran tersebut.

Saat bertengkar, Angrizal mengaku muncul niat jahat untuk memperkosa ABK. Ketika itu, ia mengangkat pakaian yang dikenakan ABK dan meraba sebagian area sensitif ABK. Namun, niat itu terhenti ketika ABK mengatakan dirinya tengah mengandung dua bulan.

"Dia minta supaya saya berhenti dan mengatakan sedang hamil, saya langsung berhenti dan meminta dia untuk turun," tuturnya.

Anak kedua dari enam bersaudara itu mengatakan ABK tetap memintanya untuk diantar ke bandara lantaran tidak punya uang. Dia pun memilih untuk mengantar ABK hingga ke lokasi dekat bandara dan memberinya uang Rp100 ribu supaya ABK dapat naik ojek atau menghubungi keluarganya.

"Tapi saya ambil handphone-nya supaya dia tahu kalau bicara seharusnya dijaga. Handphone juga saya buang saja ke kali di Kalimalang," aku dia.

Minta maaf

Saat perbincangan dengan pewarta itu, Angrizal mengaku bersalah dan menyebut bahwa perbuatannya kepada ABK tidak baik.

Dia ingin bertemu dengan ABK untuk meminta maaf dan meminta supaya laporannya dicabut agar bisa kembali membantu kedua orang tuanya.

"Saya ingin minta maaf. Saya mengaku bersalah, saya minta maaf sama dia (ABK)," ucapnya.

Jika dimaafkan, dia akan mengganti telepon genggam milik ABK yang dibuangnya ke kali.

"Saya akan ganti handphone-nya, saya minta maaf juga telah melakukan tindakan itu (pelecehan seksual), saya salah," kata dia.

Kini, Angrizal masih menjalani pemeriksaan di Polda Metro Jaya. Dia dijerat dengan Pasal 289 KUHP dan atau Pasal 362 KUHP soal pencabulan dan atau pencurian.

Ia ditangkap oleh Polda Metro Jaya di Bekasi, pada Selasa (13/2), ata sdasar laporan dari ABK. Dalam penangkapan itu kepolisian menembak kaki Angrizal karena dianggap mencoba melarikan diri. (arh/arh)