FOTO: Satu Atap Wihara, Berjuta Cinta

CNN Indonesia/Hesti Rika, CNN Indonesia | Jumat, 16/02/2018 13:20 WIB

Jakarta, CNN Indonesia -- Wihara Bahtera Bhakti atau lebih dikenal sebagai Kelenteng Ancol merupakan salah satu simbol akulturasi budaya dan keberagaman di Jakarta.

Kelenteng Ancol atau biasa dikenal Wihara Bahtera Bhakti terletak di dalam area perumahan mewah Ancol, Jakarta Utara. Kelenteng dibuka sejak pukul 06.00 sampai 18.00. Akan tetapi untuk malam Imlek, kelenteng dibuka hingga subuh. (CNN Indonesia/ Hesti Rika)
Kelenteng tersebut menjadi salah satu bukti akulturasi budaya dan kepercayaan antarumat Muslim dan Tionghoa. (CNN Indonesia/ Hesti Rika)
Dari 27 pengurus Kelenteng Ancol, 20 orang di antaranya merupakan Muslim. Tak hanya umat Konghucu, Buddha, atau Tao, umat Muslim pun datang berziarah untuk mendoakan keempat orang Muslim yang makamnya diyakini berada di dalam area kelenteng tersebut. (CNN Indonesia/ Hesti Rika)
Alkisah menurut kepercayaan turun-temurun kelenteng tersebut dibangun untuk mengenang Sampo Soei Soe, sang juru masak kapal Panglima Cheng Ho yang merapat ke daratan Kota Paris (nama legenda tepian sungai Ancol). (CNN Indonesia/ Hesti Rika)
Saat kapal bersandar Sampo Soei Soe pun bertemu seorang wanita bernama Siti Wati, putri seorang pendakwah Islam. Pedakwah tersebut bernama Embah Areli Dato Kembang dan istrinya yang bernama Ibu Enneng. (CNN Indonesia/ Hesti Rika)
Sampai saat ini kelenteng masih punya tongkat legendaris yang konon pernah dimiliki oleh Embah Areli Dato Kembang. Tongkat tersebut masih digunakan untuk memprediksi rezeki atau peruntungan hidup oleh para peziarah. (CNN Indonesia/ Hesti Rika)
Parto (42) sang juru kunci makam Embah Areli Dato Makam mertua dari Sampo Soei Soe yang merupakan pedakwah Islam tersebut terdapat di belakang bangunan klenteng utama. Parto (42) sang juru kunci menunaikan ibadah sholat disela-sela aktivitasnya menjaga makam tersebut. (CNN Indonesia/ Hesti Rika)
Peziarah dan sang juru kunci berdoa bersama menurut keyakinannya masing-masing di makam Embah Areli Dato Kembang. (CNN Indonesia/ Hesti Rika)