Tak Ada Inovasi, Jokowi Akan Buka Universitas Asing

Christie Stefanie, CNN Indonesia | Sabtu, 17/02/2018 04:25 WIB
Tak Ada Inovasi, Jokowi Akan Buka Universitas Asing Jokowi mengatakan pemerintah akan membuka ruang bagi universitas asing di Indonesia sebagai kompetitor untuk berinovasi. (CNN Indonesia/Christie Stefanie)
Makassar, CNN Indonesia -- Presiden Joko Widodo 'mengancam' akan memberi ruang bagi universitas asing di Indonesia apabila perguruan tinggi tetap tidak mau berinovasi dan mengembangkan sistem pendidikan.

Hal itu disampaikan langsung di hadapan 600 rektor dalam acara Konvensi Kampus XIV Forum Rektor Indonesia (FRI) di Universitas Hasanuddin, Makassar, Kamis (15/2).

"Kalau tanpa diberi kompetitor berubah, ya tidak usah. Tapi kalau ditunggu tidak berubah ya diberi (saingan)," ujar Jokowi.



Pemikiran ini muncul ketika Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi M. Nasir mengusulkan ke Jokowi untuk membuka pintu bagi universitas asing ke Indonesia karena perguruan tinggi diyakini tidak berubah jika tidak ada saingan.

Saat itu, Jokowi meminta Menteri Nasir segera membicarakan hal ini kepada seluruh rektor universitas swasta serta negeri di Indonesia. Ia meyakini perguruan tinggi mau berbenah sebelum diberi kompetisi.

"Setuju atau tidak Bapak Ibu sekalian? Kok diam semua? Silakan nanti dibicarakan dengan Menristekdikti," tutur mantan Wali Kota Solo ini.

Pembenahan bisa dimulai dari para rektor serta dosen lebih serius dalam proses belajar mengajar serta penelitian daripada mengurus surat pertanggungjawaban (SPJ) penelitian.

Kemudian fokus menggunakan anggaran dalam hal-hal prioritas. Jokowi menekankan, hasil penggunaan anggaran tidak akan terlihat apabila digunakan dalam banyak program.


Sejak tahun lalu, Jokowi memang berencana memberi izin kepada perguruan tinggi asing untuk membuka cabang di Indonesia. Tujuannya, dunia pendidikan Indonesia memiliki pembanding dalam hal kualitas.

Pembanding diperlukan agar perguruan tinggi Indonesia mengetahui sistem yang ada selama ini benar atau tidak. Dalam 30 tahun terakhir belum ada terobosan mendasar di sektor pendidikan.

Buka cabang universitas asing di Indonesia ini, menurut Jokowi bisa direalisasikan melalui revisi undang-undang tentang pendidikan tinggi.

Tak Harus Bertaraf Internasional

Jokowi berpendapat tidak semua perguruan tinggi di Indonesia harus bertaraf internasional. Hal itu dikarenakan kondisi dan situasi universitas yang berbeda di setiap daerah.

"Perlu saya ingatkan tidak perlu semua universitas jadi world class tetapi semua perlu jadi relevan dan berkontribusi bagi masyarakat," ujar Jokowi.

Ia mencontohkan perguruan tinggi di daerah pesisir dapat berperan bagi masyarakat sekitar melalui inovasi pembudidayaan ikan, pengelolaan hasil laut, serta pelestarian budaya bahari.


Sementara itu, perguruan tinggi di kawasan pertanian dapat berinovasi dalam pengelolaan lahan, teknologi meningkatkan hasil pertanian bahkan peternakan, industri pengolahan, serta penyediaan energi.

Di sisi lain, mantan Wali Kota Solo ini meminta perguruan tinggi yang sudah maju tetap berinovasi dan mengembangkan program studi agar memenangkan kompetisi global.

Program studi dinilai dapat berkembang ke arah data sains, ekonomi digital, jasa, bahkan industri gaya hidup. Inovasi prodi diperlukan sebab dunia dan teknologi sudah berubah sangat cepat.

"Jadi semua berkontribusi kepada masyarakat yang lokal, nasional, atau internasional. Semua punya potensi sama," kata Jokowi. (pmg)