"Ini kan ada desakan 97 persen. Intinya PSI atas dasar desakan masyarakat, pengurus, dan anggota," tuturnya, ujar Kuasa Hukum Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Kamaruddin, di gedung Mahkamah Konstitusi, Jakarta, Jumat (23/2).
Lihat juga:PSI Gugat UU MD3 ke Mahkamah Konstitusi |
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, ia mengungkapkan bahwa pihaknya masih memiliki tahapan perbaikan gugatan jika UU MD3 sudah diberi nomor. Ia tidak mempermasalahkan jika Presiden Joko Widodo tidak menandatangani hasil revisi UU MD3.
Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Grace Natalie, di Jakarta, belum lama ini. (Foto: CNN Indonesia/Safir Makki) |
Di tempat yang sama, politikus PSI Tsamara Amany menyatakan penolakan terhadap UU MD3 tak hanya bisa dilakukan melalui uji materi ke MK. Ia mengajak masyarakat, terutama generasi muda, membuat video blog (vlog) menyuarakan penolakan terhadap UU MD3.
"Bikin gerakan di medsos mengajak orang bikin vlog alasan UU MD3 ini harus ditolak," ujar dia.
Sejumlah pasal dalam UU MD3, kata Tsamara, dikhawatirkan merenggut kebebasan masyarakat berpendapat bahkan mengkritik anggota DPR yang sesungguhnya dipilih langsung oleh rakyat.
"Ini menunjukan watak anggota-anggota DPR tidak mau dikritik, mereka membentuk UU yang menunjukan diri mereka superpower," tuturnya.
Setelah itu, UU akan diberi nomor dan dicantumkan dalam Lembaran Negara sebagai bentuk pengumuman bahwa UU itu mengikat.
Jika Presiden tak menandatanganinya, UU tetap diundangkan dalam jangka waktu 30 hari sejak disetujui dua pihak itu.
Sejumlah gugatan ke MK pernah diminta diperbaiki karena tidak mencantumkan nomor UU agar objek gugatannya jelas.
Sebelum PSI, Irman Putra Sidin, selaku kuasa hukum Forum Kajian Hukum dan Konstitusi (FKHK), lebih dahulu mengajukan uji materi UU MD3.
Lihat juga:UU MD3 Resmi Digugat ke Mahkamah Konstitusi |
Ketiga pasal itu berkaitan dengan pelibatan Polri dalam memanggil yang diduga merendahkan DPR, MKD mengambil langkah hukum kepada siapapun yang diduga merendahkan kehormatan DPR, serta imunitas terhadap anggota DPR.
(arh/gil)
Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Grace Natalie, di Jakarta, belum lama ini. (