David Febrian
Seorang pengamat dan analis amatir sekali; menyukai sastra dalam segala ragamnya; menyukai musik klasik sebagai mantra; percaya bahwa politik adalah solusi dan masih mencari Baudalino-nya Umberto Eco hingga kini.

Generasi Paranoid di Senja Kebenaran

David Febrian, CNN Indonesia | Kamis, 08/03/2018 10:15 WIB
Generasi Paranoid di Senja Kebenaran Ilustrasi. (CNN Indonesia/Fajrian diolah dari Thinkstock)
Jakarta, CNN Indonesia -- Paranoia sedang menggantung di langit Indonesia, mendungnya teramat gelap. 

Misalnya saja dalam kasus Novel Baswedan yang sampai saat ini tidak seorangpun bisa memastikan motif di balik serangan tersebut. Karena dalam persepsi hukum dan logis, tanpa alat bukti dan motif yang jelas, kita tidak bisa serta merta membuat kesimpulan bahwa ada sebuah persekongkolan jahat untuk menyerang KPK dan gerakan anti-korupsi.

Namun, bukankah di kalangan para penggiat HAM dan anti-korupsi sudah di-stigmatisasi bahwa serangan terhadap Novel adalah serangan sistematis terhadap gerakan pemberantasan korupsi di Indonesia secara lebih khusus terhadap KPK?


Skenario-skenario pun dibangun sedemikian rupa tanpa fakta yang valid dan bukti yang tidak teruji. Kalangan aktivis pun dengan semangat membuat pernyataan-pernyataan, tudingan-tudingan serta menyebarkan informasi yang sepertinya mereka yakin benar, begitulah cerita sesungguhnya, bahwa telah terjadi sebuah persekongkolan jahat.

Akibatnya, semua yang berasal dari kepolisian seakan tidak bisa dipercayai lagi. Dengan nada menuduh seakan-akan kepolisian terlibat di dalam persekongkolan dan dimintalah kepada presiden untuk dibentuk Tim Gabungan Pencari Fakta, karena kita semakin paranoid.

Ketika "post-truth" dipilih oleh Universitas Oxford untuk dimasukkan ke OxfordDictionaries.com (sekarang; sebagai Oxford English Living Dictionaries) pada 2016 yang sekaligus menetapkan kata itu sebagai "Word of the Year", era baru telah dimulai.

Era itu ditandai Referendum Brexit dan terpilihnya Donald Trump sebagai calon Partai Republik untuk Pilpres AS 2016. Kata "post" tersebut, meskipun bisa diartikan sebagai "setelah", makna sebenarnya adalah "tidak relevan". Sehingga bisa dimaknai, kebenaran sudah tidak relevan lagi. Fakta objektif sudah tidak esensial dibandingkan pendapat pribadi dan emosi massa.

Mengapa maknanya "tidak relevan"?

Sederhananya begini. Ketika Referendum Brexit dilaksanakan 23 Juni 2016, terjadi lonjakan di mesin pecari Google soal segala hal yang berhubungan dengan Brexit. Padahal, sebelum referendum terjadi dan dimenangkan oleh kubu "Yes", pencarian kata Brexit dan efeknya tidak setinggi itu.

Kekagetan akibat referendum Brexit mendorong terjadi lonjakan pencarian makna Brexit sesungguhnya. Kejadian itu menunjukkan para pemilih tidak mau tahu sama sekali tentang yang dipilihnya. Euforia dan jargon "Inggris berjaya kembali" dan lepas dari tekanan Uni Eropa mengalahkan fakta-fakta objektif pilihan yang tersedia dan akibat yang telah diperhitungkan secara ilmiah oleh para ahli.

Kemenangan Donald Trump juga begitu. Dari sekian banyak fakta pelecehan seksual yang dilakukan Trump, tetap saja ia terpilih mengalahkan segala alasan logis dan pertimbangan politik yang baik.

Saya mengaitkan kata post-truth dan kejadian di Inggris dan AS tersebut dengan paranoia yang kita derita saat ini. Dari kata dan contoh itu, kita bisa merunut dengan jelas akar dari kebisingan-kebisingan yang terjadi belakangan ini, terutama di media sosial, yang efeknya berlanjut hingga ke ranah politik praktis, dalam bentuk kampanye hitam, hoaks dan ujaran-ujaran kebencian yang masif.

Akibatnya muncullah generasi yang sangat paranoid dan emosional, yang dapat kita lihat di media sosial, pada demonstrasi-demonstrasi bahkan di lembaga-lembaga politik, LSM hingga ke gedung parlemen.

Masyarakat kita, meskipun semakin banyak berpendidikan tinggi, sebenarnya orang-orang yang berpikir sederhana dan malas berpikir. Pendidikan tinggi tidak memberikan kepada para peserta didiknya kemampuan untuk analitis dan kritis.

Saya tidak menyebut lulusan perguruan tinggi kita orang-orang dengan tingkat kecerdasan rendah. Sebagian besar dari mereka adalah orang-orang yang mumpuni di bidangnya. Para insinyur bisa merancang dengan baik; sarjana ekonomi bisa bekerja di bank-bank dan lembaga keuangan lain; akuntan menjadi auditor di lembaga pemerintahan; sarjana IT bisa membuat aplikasi-aplikasi bagus dan merupakan pekerja keras di bidangnya; dokter-dokter kita itu orang-orang handal dan peneliti hebat.

Anehnya, orang-orang yang disebutkan di atas adalah orang-orang yang sama yang bergelar sarjana, magister bahkan banyak dari mereka yang bergelar doktor, dengan sadar mempercayai hoaks; menyebar ujaran kebencian dan mensyiarkan fitnah di mimbar-mimbar ceramah, media sosial bahkan di acara pesta-pesta keluarga.

Secara sadar mereka telah membangun fondasi kebenaran mereka di atas fantasi dan ilusi yang diakibatkan oleh ketakutan atau paranoia belaka.

Dengan berani saya sebut, ketika berhadapan dengan realitas di luar lingkup pendidikan dan profesinya, para sarjana, master bahkan para doktor lemah dalam memahami realitas sosial-politik dan tidak mampu mem-proses informasi dengan baik dan mudah diperdaya.

Salah satu contoh yang mudah ditemukan adalah penolakan terhadap media-media mainstream dan menjamurnya situs berita abal-abal, yang anehnya dikunjungi banyak pembaca.

Beredarnya informasi yang memberitakan soal ancaman, serangan-serangan (yang tidak jelas kebenarannya), dengan mudah pula ketakutan itu muncul dan menular.

Paranoia di manapun dan pada siapa pun, sama bentuknya seperti sebuah pengharapan. Orang yang berharap menginginkan sesuatu hadir, meskipun dia tidak tahu pasti kapan akan menjadi nyata, tetapi harapan selalu memberikan waktu untuk menunggu dan menunggu. Akhirnya kita membangun semacam ritual untuk membuat ketakutan itu selalu ada. Penyebaran paranoia tersebut semakin cepat dan efektif dengan adanya media sosial.

Seorang guru ditangkap karena diduga menyebarkan berita palsu soal kehadiran 15 juta anggota PKI yang akan "membunuhi para ulama." Kelompok penyebar hoaks dan baru-baru ini, MCA (muslim Cyber Army) membuat paranoia itu semakin mudah menjangkiti generasi labil di media sosial.

Di lain tempat dan waktu, berita bohong disebar soal tenaga kerja dari China sebesar 10 juta orang telah masuk ke Indonesia. Beberapa kelompok relijius mendengungkan ancaman dari penguasa untuk kelompok tertentu, etnis tertentu dan yang tidak sealiran, lalu dibuatlah perlawanan untuk menghadapi "ancaman" tersebut.

Reaksi di masyarakat dan di media sosial terhadap penyerangan kepada beberapa orang ustaz atau ulama, penyerangan terhadap seorang pastor di gereja juga serupa.

Dibangun narasi-narasi konspiratif bahkan oleh tokoh-tokoh partai politik dan kalangan cendekiawan, yang menyebutkan ada kekuatan-kekuatan tertentu yang mendalangi kejadian-kejadian sporadis tersebut untuk tujuan-tujuan tertentu, dan lagi-lagi berkembang secara masif di media sosial.

Narasi konspiratif yang diberikan kepada publik hanya membuat ketakutan itu semakin menyebar. Seakan-akan kita di dalam ancaman yang begitu mengerikan. Paranoia semakin menggelembung dan Don Quixote era modern pun bermunculan

Sehingga jika muncul kesimpulan bahwa yang dijangkiti oleh sindrom post-truth itu bukan saja pengguna media sosial di dunia maya, baik di kalangan terdidik tinggi atau rendah, di warung-warung kopi, di ruang-ruang tamu keluarga, tetapi jauh masuk ke dalam kantor-kantor partai, lembaga negara, LSM, yang membuat fakta objektif tidak relevan lagi, dan lebih mendahulukan persepsi pribadi, dorongan emosional dan bahkan kebencian belaka.

Paranoia yang sedang berkembang di tengah kita ini mesti segera dicegah, jika kita tidak ingin korban berjatuhan akibat ketakutan yang tanpa alasan serta para penumpang-penumpang gelap yang bisa menunggangi keadaan ini ke arah yang lebih buruk.

Dalam hal kasus Novel Baswedan, jika konspirasi besar seperti itu terjadi, seharusnya serangan-serangan semacam itu tidak bersifat tunggal terhadap seorang penyidik KPK saja. Bukankah bisa jadi sebenarnya ada motif personal di dalam kejahatan tersebut? Sehingga serangan tunggal itu hanya ditujukan kepada personal tertentu yang kebetulan seorang penyidik KPK.

Tentu saja ini bukan sebuah kesimpulan, karena bukti dan motif belum dipastikan sama sekali oleh penegak hukum. Justru itu kita mesti memberikan ruang untuk dibukanya kemungkinan-kemungkinan lain akan peristiwa penyerangan terhadap Novel Baswedan dan membiarkan peegak hukum bekerja dengan baik semabri diawasi secara ketat.

Akibatnya, tingkat kepercayaan publik kepada pemerintah semakin rendah, seama warga negara saling mencurigai dan negara bisa terjerumus ke dalam perpecahan dan chaos yang bisa jadi akan sangat sulit kita kendalikan setelahnya, hanya karena warga negara dan pengguna media sosial yang berpendidikan itu sudah menjadi insan-insan paranoid dan buta realitas.

Paranoia ini akan menjadi semacam lingkaran setan ketika sudah dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu untuk mencapai kepentingan politik atau kepentingan finansial jangka pendek, karena kebohongan membutuhkan kebohongan yang lain untuk menutupi kebohongan lama, akhirnya paranoia membutuhkan paranoia baru jika paranoia lama sudah tidak mempan lagi.

Paranoia yang begini rupa memang bukan khas zaman kita saja. Holocaust terhadap orang-orang Yahudi pada Perang Dunia II bisa terjadi akibat paranoia yang berlebihan yang disebarkan melalui mesin propaganda, media masa, film-film yang diorganisasikan secara sistematik.

Lebih dari 50 tahun yang lalu kita pernah terjebak di dalam paranoia massal serupa, berupa ketakutan terhadap ancaman komunisme. Akibatnya tidak kurang dari satu juta orang meregang nyawa.

Berdekade berikutnya paranoia itu sengaja dibangun dengan sistematis oleh Orde Baru untuk melanggengkan kekuasaannya.

Tak heran jika cara itu pula dipakai justru untuk meraih kekuasaan. Bukankah manusia terbiasa dengan mudah mengorbankan sesamanya demi kekuasaan? (vws)
LEBIH BANYAK DARI KOLUMNIS