Lebih Pilih Jokowi, PKB Belum Tertarik pada Poros Demokrat

Ihsan Dalimunthe, CNN Indonesia | Kamis, 08/03/2018 13:30 WIB
Lebih Pilih Jokowi, PKB Belum Tertarik pada Poros Demokrat PKB lebih memilih Jokowi (kiri) sebagai Capres dan Muhaimin Iskandar sebagai cawapres (kanan) ketimbang poros ketiga yang disebut-sebut akan dipimpin Demokrat. (CNN Indonesia/Christie Stefanie)
Jakarta, CNN Indonesia -- Masih menaruh hati lebih besar pada Joko Widodo, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) tak begitu tertarik dengan pembentukan poros ketiga yang disebut-sebut Susilo Bambang Yudhoyono akan menjadi kunci di dalamnya.

Bendahara Umum PKB Bambang Susanto mengakui jika poros ketiga nanti akan menjadi pembicaraan yang rumit dan sangat panjang. Saat ini, katanya, fokus utama PKB, yang merupakan partai pendukung pemerintah yang masih akan terus mendukung Jokowi.

Bambang mengatakan Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar menempatkan Jokowi sebagai calon presiden (capres) yang paling diutamakan.


"Komunikasi dengan Jokowi yang utama. Cak Imin sama Jokowi intensif banget, tinggal tunggu forum resmi saja," kata Bambang kepada CNNIndonesia.com, Kamis (8/3).

Bambang menarangkan meujuk pada hitung-hitungan di poros ketiga yang menyisakan tiga partai yakni PKB, PAN dan Demokrat, masing-masing akan memiliki calon dan ambisi yang akan dimajukan. Itu artinya, kata Bambang, wacana soal SBY yang akan menjadi kunci di poros ketiga sulit terwujud.

"Karena kita tetap akan majukan Cak Imin. Poros SBY mau terima tidak? Karena kan SBY punya calon juga," ungkap Bambang.


Walau demikian, Bambang mengakui dalam politik apapun bisa terjadi.

Sejauh ini, ia mengatakan komunikasi politik Cak Imin dengan elite Gerindra juga sudah dijalankan. Hanya saja, sambungnya, komunikasi dengan parpol yang belum mendeklarasikan dukungan belum terwujud.

"Cak Imin juga belum bertemu dengan SBY. Jadi semua masih cair," kata Bambang.

Lebih Pilih Jokowi, PKB Belum Tertarik Dengan Poros DemokratSusilo Bambang Yudhoyono. (ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga)
Di satu sisi, Bambang malah lebih yakin bahwa SBY justru akan merapat ikut mendukung Jokowi di Pilpres. Dugaan itu terlihat dari kedatangan Komandan Satuan Tugas Bersama (Kogasma) Pemenangan Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) ke Istana Negara dan mengundang Jokowi ke Rapimnas Partai Demokrat.

"Intinya semua kemungkinan bisa terjadi. Tapi kalau PKB yakin kita pasti dibutuhkan baik di poros Jokowi ataupun Prabowo dengan posisi tawar basis NU yang kita miliki," urai Bambang.

Senada dengan Bambang, Wakil Sekretaris Jenderal PKB Lukman Edy juga mengamini jika Demokrat memberikan sinyal kuat akan mendukung koalisi pendukung Jokowo di pilpres 2019.

"Sepertinya SBY mau merapat juga ke Jokowi," kata Lukman kepada CNNIndonesia.com.

Lukman pun menekankan saat ini partainya masih setia dengan koalisi pemerintahan. PKB juga akan fokus mendorong Jokowi untuk memilih Cak Imin sebagai wakilnya dalam Pilpres 2019. Pasalnya, PKB yakin di era menebalnya populisme islam, dan perang sosial media yang dahsyat terutama sorotan terhadap keberpihakan Jokowi terhadap kepentingan umat Islam, figur Cak Imin adalah pilihan yang tepat untuk menjawabnya.


Atas dasar itu, sambungnya, bicara poros ketiga, apalagi SBY sebagai kunci didalamnya masih terlalu dini untuk disimpulkan. Berdasarkan pengamatannya, Lukman mengatakan Demokrat dan PAN yang memiliki kecenderungan membuat poros baru pun belum menetapkan calon yang akan dijagokan di pilpres 2019 nanti. Justru, kata dia, yang menjalin komunikasi lumayan intensif di luar poros Jokowi dan Prabowo adalah poros partai berbasis massa islam (PKB, PAN, PKS, dan PPP).

"Ditengah merebaknya populisme Islam, maka partai-partai berbasis massa Islam mau tidak mau harus melakukan konsolidasi agar 5 tahun kedepan aspirasi umat ini tidak terpinggirkan lagi. Penting bagi PKB untuk menggagas pertemuan pertemuan dengan PAN, PKS, PPP dan PBB," kata Lukman.


Sebelumnya peneliti dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Syamsuddin Haris berpendapat Partai Demokrat memiliki peran untuk menentukan pembentukan poros ketiga di Pemilu Presiden 2019.

"Kalau poros ketiga itu peluangnya adalah di kubu pak SBY atau partai demokrat," ujarnya dalam diskusi bertajuk 'Pencalonan Pilpres 2019: Menantang Gagasan Anti Korupsi dan Demokrasi' di kantor Indonesia Corruption Watch (ICW), Selasa (6/3).

Poros ketiga merujuk pada fenomena pertarungan calon presiden yang selama ini didominasi hanya oleh Joko Widodo dan Prabowo Subianto. Keberadaan poros ketiga berarti akan memunculkan calon alternatif selain Jokowi dan Prabowo. Menurut Syamsuddin, andai poros ketiga terbentuk nanti tak hanya menawarkan calon presiden alternatif, melainkan juga mencegah pembelahan sosial dan politik di masyarakat.


Menanggapi hal itu, Sekjen Partai Demokrat Hinca Panjaitan memastikan poros ketiga dalam pemilihan presiden (pilpres) 2019 akan terbentuk. Menurut dia membentuk poros baru adalah keharusan.

"Poros ketiga itu keniscayaan yang harus dibentuk," kata Hinca kepada CNNIndonesia.com, Rabu (7/3).

Hinca menyatakan poros baru diluar kubu petahana Joko Widodo dan Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto harus dikembangkan dan dirawat dengan serius.

Hinca mengakui, poros ketiga yang akan terbentuk nanti akan menumbuhsuburkan demokrasi di Indonesia pasca bergulirnya reformasi tahun 1998. Namun demikian, Hinca masih belum mau membuka penjajakan koalisi yang sudah terjalin demi tercapainya poros ketiga tersebut. (DAL/kid)