MUI: Cadar dan Celana Cingkrang Bukan Simbol Radikalisme

Bimo Wiwoho, CNN Indonesia | Jumat, 09/03/2018 13:34 WIB
MUI: Cadar dan Celana Cingkrang Bukan Simbol Radikalisme MUI menilai kebijakan UIN Yogyakarta melarang mahasiswi menggunakan cadar kurang tepat. (AFP PHOTO/MOHAMMED AL-SHAIKH)
Jakarta, CNN Indonesia -- Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), Zainut Tauhid Sa'adi mengatakan bahwa paham radikalisme tidak bisa diukur dari aksesoris yang dikenakan seseorang seperti cadar, celana cingkrang, dan jenggot.

Sebelumnya, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta melarang mahasiswi mengenakan cadar. Larangan diterbitkan karena kampus tersebut sudah dua kali kecolongan ulah mahasiswi bercadar yang melenceng dari nilai-nilai yang dianut oleh sebagian muslim Indonesia.

Mengenai alasan UIN Sunan Kalijaga itu, Zainut tidak sepakat.

"Karena radikalisme itu tidak hanya diukur melalui simbol-simbol aksesoris belaka seperti cadar, celana cingkrang, dan potongan jenggotnya," ucap Zainut melalui siaran pers, Kamis (8/3).

Tetapi, kata Zainut, radikalisme lebih kepada pemahaman terhadap ajaran agamanya.

Zainut menjelaskan masih ada perbedaan pandangan di kalangan ulama perihal pemakaian cadar bagi seorang muslimah. Belum ada konsensus bahwa cadar merupakan suatu kewajiban bagi seorang muslimah.

Menurut Zainut, ada kesalahpahaman dari pihak yang mengaitkan masalah radikalisme dengan pemakaian cadar, celana cingkrang, dan potongan jenggot seseorang.

Oleh karena itu, kurang tepat jika menangkal ajaran radikalisme dijadikan motif untuk melarang mahasiswi mengenakan cadar.
Zainut menilai alangkah baiknya jika misi menangkal radikalisme dilakukan melalui pendekatan yang sifatnya persuasif dan edukatif.

Selain itu, konseling keagamaan yang dilaksanakan secara intensif juga dapat menjadi jalan keluar. Bukan malah melarang penggunaan aksesoris.

"Saya khawatir setelah larangan itu kemudian disusul dengan larangan berikutnya yaitu larangan mahasiswa yang memakai celana cingkrang dan berjenggot," ucap Zainut.

MUI, lanjut Zainut, yakin bahwa sebagian besar masyarakat Indonesia tidak ingin kampus menjadi sarang radikalisme.

Dia mengatakan masyarakat juga berharap kampus menjadi tempat persemaian nilai-nilai ajaran Islam yang moderat dan Islam yang rahmatan lil alamiin.

Zainut lalu meminta kepada semua lihak untuk menahan diri.

MUI, kata Zainut, tidak ingin isu pelarangan cadar dijadikan alat untuk mendiskreditkan suatu kelompok. Terutama terhadap kelompok yang menganggap cadar sebagai suatu keharusan.

"Karena dikhawatirkan dapat memecah belah persatuan dan kesatuan umat Islam," ucapnya.
(ugo)