Sandiaga Akui Rumahnya Masih Sedot Air Tanah

Mesha Mediani, CNN Indonesia | Selasa, 13/03/2018 12:20 WIB
Sandiaga Akui Rumahnya Masih Sedot Air Tanah Wakil Gubernur DKI Sandiaga Uno berjanji akan menghentikan mesin pengambil air tanah yang ada di rumahnya. (CNN Indonesia/Hesti Rika)
Jakarta, CNN Indonesia -- Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno berencana menutup sumur air tanah yang berada di rumahnya di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Sandi berjanji akan beralih menggunakan air PAM untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Rencananya itu menindaklanjuti langkah Pemprov DKI yang mulai tegas memeriksa penggunaan air tanah tanpa izin oleh gedung-gedung tinggi karena berpotensi merusak lingkungan. Sandi pun mengaku langsung memeriksa rumahnya.

"Rumah saya hari ini kita matikan airnya yang dari tanah. Nanti saya ingin bawa teman-teman untuk (meninjau) setelah gedung-gedung, rumah-rumah juga," kata Sandi di Jakarta, Selasa (13/3).


Dia tak menampik masih banyak warga perumahan yang mengambil air, termasuk dirinya. Padahal, warga harus menggunakan layanan air bersih dari operator Palyja yang bekerjasama dengan PAM Jaya.

Sandi pun mengingatkan kepada seluruh warga saling mengingatkan pada tetangganya untuk setop mengambil air tanah. Terlebih, penurunan muka tanah disebabkan oleh penyedotan air tanah.

"Gunakan air PAM. Kita dorong PAM untuk berinvestasi untuk pipanisasinya dan kita stop untuk mengambil air tanah," kata Sandi

Sementara itu, Gubernur Anies Baswedan mengaku miris karena banyak masyarakat hanya memperhatikan masalah orang kecil, seperti pedagang kaki lima (PKL) tetapi seolah melupakan kesalahan besar seperti penggunaan air tanah oleh gedung pencakar langit.

"PKL memang tidak menaati aturan tetapi karena kebutuhan. Di belakang, gedung pencakar langit, mereka tidak menaati aturan karena keserakahan. Itu yang saya rasakan selama bertugas di DKI," katanya.

Oleh sebab itu, Anies berharap pengelola gedung mengubah pola pengelolaan air dan limbah. Anies berjanji akan memberi sanksi bagi semua gedung di kawasan Sudirman-Thamrin yang melanggar pemanfaatan air tanah dan pengolahan limbah air.

Saat ini, tim dari Pemerintah Provisi DKI Jakarta masih mengevaluasi 80 gedung hingga 20 hari ke depan.

Evaluasi dilakukan oleh tim Pemprov DKI yang terdiri dari Dinas Cipta Karya, Tata Ruang dan Pertanahan, Dinas Perindustrian dan Energi, Dinas Sumber Daya Air, dan Dinas Lingkungan Hidup.

"Sudah dikumpulkan data dan berita acara, dari situ kita akan berikan," ujarnya di Balai Kota, Selasa (13/3)..

Kemarin, Anies telah mendatangi Hotel Sari Pan Pacific dan menemukan pelanggaran terkait penggunaan air tanah di sana. Manajemen pun akan diberi sanksi sesuai jenis pelanggarannya.

"Pesan paling penting dari razia gedung ini adalah semua pelaku ekonomi di Jakarta, semua warga harus taat aturan dan kita tidak ingin kecenderungan selama ini diteruskan," katanya.

Evaluasi tersebut dilaksanakan berdasarkan Keputusan Gubernur Nomor 279 Tahun 2018 tentang Tim Pengawasan Terpadu Penyediaan Sumur Resapan dan Instalasi Pengolahan Air Limbah Serta Pemanfaatan Air Tanah di Bangunan Gedung dan Perumahan. (wis)