"Itu kasusnya beda, beda dengan yang di Kediri," tepisnya, usai dialog kerukunan antarumat beragama, di Gedung Tribrata Polda Jatim, Surabaya, Jumat (16/3).
Lihat juga:Marak Skimming, Bank Indonesia Panggil BRI |
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dia mengatakan, hingga kini belum bisa disimpulkan apakah yang menimpa puluhan nasabah BRI Ngadiluwih uang di rekeningnya berkurang karena aksi skimming oleh oknum tidak bertanggungjawab atau faktor lain.
Korban menerima laporan transaksi melalui pesan singkat, padahal tidak melakukan transaksi apapun. Transaksi misterius itu terjadi dalam rentang 10-11 Maret 2018. Korban dan nasabah yang khawatir lantas mengajukan pemblokiran ke bank terkait.
Kabid Humas Polda Jatim Kombes Pol Frans Barung Mangera membenarkan soal bertambahnya jumlah korban nasabah Bank Rakyat Indonesia (BRI) yang saldonya berkurang secara misterius di Kecamatan Ngadiluwih, Kabupaten Kediri, Jawa Timur.
"Semula hanya 33 nasabah, kini menjadi 87. Dan sangat mungkin bertambah lagi. Bisa ratusan korbannya, karena kasus ini, sistem BRI yang diganggu," tuturnya, Rabu (14/3).
Sindikat itu telah beroperasi sejak Juli 2017. Para tersangka menyasar nasabah bank dengan modus menyimpan alat skimmer pada mesin ATM di Jakarta, Bandung, Tangerang, Yogyakarta dan Denpasar Bali. (dik/arh)