Sehari Pascakecelakaan, Setnov Disebut Bisa Kencing Berdiri

Feri Agus Setyawan, CNN Indonesia | Senin, 02/04/2018 16:29 WIB
Sehari Pascakecelakaan, Setnov Disebut Bisa Kencing Berdiri Setya Novanto (kiri) kini menjadi terdakwa korupsi e-KTP dan harus menjalani persidangan di Pengadilan Tipikor Jakarta didamping kuasa hukumnya, Maqdir Ismail (kanan). (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Jakarta, CNN Indonesia -- Mantan Ketua DPR Setya Novanto disebut bisa berdiri tegak ketika buang air kecil dan beraktivitas dengan sigap sehari setelah masuk Rumah Sakit (RS) Medika Permata Hijau karena kecelakaan mobil.

Hal tersebut disampaikan perawat RS Medika Permata Hijau, Indri Astuti, saat bersaksi untuk terdakwa merintangi penyidikan kasus korupsi proyek e-KTP, dokter Bimanesh Sutarjo, di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Senin (2/4).


Ia bersaksi Setnov masuk ke RS Medika, pada Kamis (16/12/2017) malam, karena kecelakaan mobil di kawasan Permata Hijau. Keesokan harinya, aku Indri, ia mendapati Setnov kencing berdiri.


"Menjelang jam 6 pagi saya mau cek tensi, tapi pasien masih tidur. Saya masuk lagi ke kamar itu, saya lihat bapak itu [Setya Novanto] berdiri tegak buang air kecil," tutur Indri.

Dia mengaku Setnov terlihat kaget mengetahui dirinya ada di dalam kamar. Indri menduga pria yang kala itu masih menjabat Ketua Umum Partai Golkar dan Ketua DPR itu tak mendengar dirinya masuk ke dalam kamar.

"Mungkin dia enggak dengar saya masuk. 'Pak saya bantuin'. Si bapak itu kaget," kata Indri.

Dokter RS Medika Permata Hijau, Bimanesh Sutarjo, di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta,8 Maret.  Dokter RS Medika Permata Hijau, Bimanesh Sutarjo, adalah pemeriksa Setya Novanto usai mengalami kecelakaan mobil pada November 2017 silam. Dia kini jadi terdakwa merintangi penyidikan Setya Novanto dalam kasus korupsi e-KTP. (CNN Indonesia/Hesti Rika)

Namun, kata Indri, ada hal yang ganjil ketika Setnov akan kembali ke tempat tidurnya. Saat itu, tiba-tiba Setnov kesulitan untuk kembali membaringkan badannya. Padahal, ia bisa buang air kecil berdiri.

"Setelah [buang air kecil] itu dia merebahkan badan dengan susah payah," imbuh dia.

Indri mengaku banyak kejanggalan saat memberi perawatan kepada Setnov sejak awal masuk RS. Misalnya, ketika menggantikan pakaian, Setnov tampak sigap, namun matanya tetap tertutup. 

"Saya ganti bajunya tapi dengan sigap, enggak ada lemes-lemesnya. Tapi dia tetep merem. Sudah enggak marah-marah lagi dia," ujarnya.


Indri semakin takut saat menangani Setnov, ketika di waktu yang bersamaan tayangan televisi di kamar VIP nomor 323 itu terus-menerus memberitakan seputar peristiwa kecelakaan mobil terdakwa korupsi proyek e-KTP tersebut.

"Di kamar itu televisi nyala terus. Saya semakin takut dan gemetar. Dari awal saya masuk berita udah heboh karena kecelakaan. Saya dikasih tahu dokter Alia, awalnya hipertensi dan vertigo. Makin saya bingung, di otak saya 'waduh apa ini?'," kata dia.

Indri melanjutkan selepas pukul 20.00 WIB, di depan kamar inap Setnov sudah ramai. Ada sejumlah polisi berseragam hingga petugas Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Dia mengaku semakin bingung dengan kehadiran orang-orang tersebut.

"Ruangan jadi mencekam karena banyak polisi. Perawatnya saya, Nurul sama Nur Fitriana," tuturnya.


Menurut dia, dirinya sempat dicecar pertanyaan oleh petugas KPK saat malam itu. Petugas KPK itu, kata Indri meminta data pasien Setnov yang masuk pada sekitar pukul 18.45 WIB.

Namun, Indri mengatakan karena belum mendapat izin dari dokter Bimanesh, dirinya tak menyerahkan data pasien sampai pergantian jam kerja pada pagi harinya sekitar pukul 07.00 WIB.

"Saya bilang, saya enggak izinin, saya harus konfirmasi dokter Bima. Tapi dokter Bima berkali kali enggak bisa ditelepon," kata dia.

Sebelumnya, Setnov menggunakan alasan perawatan di RS akibat kecelakaan sebagai cara untuk menghindari penjemputan KPK. (arh/kid)