Nasib Tito Jadi Bakal Cawapres Disebut Tergantung Jokowi

Martahan Sohuturon, CNN Indonesia | Selasa, 03/04/2018 20:53 WIB
Nasib Tito Jadi Bakal Cawapres Disebut Tergantung Jokowi Meskipun baru masuk masa purnabakti pada 2022 mendatang, Tito Karnavian yang kini masih menjabat Kapolri dinilai tetap bisa masuk bursa menjadi cawapres dalam Pilpres 2019. (CNN Indonesia/Djonet Sugiarto)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Kapolri), Jenderal Tito Karnavian menyebut politik adalah dua yang penuh dengan aksi saling sikut dan gaduh.

Pernyataan itu disampaikan Tito menanggapi pertanyaan wartawan seputar peluangnya untuk terjun ke dunia politik setelah pensiun dari korps bhayangkara.

"Sampai hari ini saya belum tertarik, dunia politik dunia yang banyak sikut-sikutan. Dunia yang sangat ribut," kata Tito di Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK), Jakarta Selatan, 26 Oktober 2017 silam.



Namun sikap tegas Tito itu tidak menghentikan langkah sejumlah tokoh nasional untuk tetap menyeret namanya ke ranah politik. Salah satunya, mantan Ketua Mahkamah Konstitusi, Mahfud MD, yang mengaku menjagokan Tito maju sebagai calon wakil presiden (cawapres) di Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 mendatang.

Menurut Mahfud, Tito merupakan sosok yang cocok menjadi cawapres karena masih muda dan berintegritas.

"Kalau menurut saya sendiri yang mantap (jadi cawapres) itu pak Tito (Kepala Kepolisian Republik Indonesia Jenderal Tito Karnavian)," ujarnya di sela-sela acara peluncuran buku di Universitas Islam Indonesia (UII), Yogyakarta pada Sabtu (31/3), seperti dilansir detikcom.


Nama mantan Kapolda Metro Jaya itu sebetulnya sudah muncul di sejumlah lembaga survei sejak pertengahan tahun lalu. Lembaga survei Indikator Politik, Charta Politika, hingga Alvara Research Center mencantumkan nama Tito sebagai tokoh yang berpeluang menjadi cawapres.

Direktur Eksekutif Indikator Politik, Burhanuddin Muhtadi, mengatakan Tito merupakan salah satu nama cawapres yang dinilai publik layak mendampingi Jokowi di Pilpres 2019. Dia berkaca pada simulasi yang telah dilakukan di mana Tito jadi satu dari tiga nama cawapres bersama Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dan mantan Panglima TNI Gatot Nurmantyo. Dari simulasi itu Tito mengantongi elektabilitas 12 persen.

"Seingat saya 12 persen, itu jika tiga nama yakni Sri Mulyani, Gatot, dan Tito," kata Burhanuddin saat berbincang dengan CNNIndonesia.com, Senin (2/3).


Walau menduduki tingkat elektabilitas 'buncit', peluang Tito untuk menjadi cawapres di Pilpres 2019. Burhanuddin menilai, peluang Tito sebagai cawapres sangat tergantung dengan elektabilitas calon presiden petahana, Joko Widodo (Jokowi). Dia menuturkan, posisi tawar Tito sebagai cawapres akan meningkat seiring dengan peningkatan elektabilitas Jokowi.

Menurutnya, Tito akan dipinang sebagai cawapres bila Jokowi tidak membutuhkan pasangan yang mampu mendongkrak suara di Pilpres 2019 mendatang.

"Kalau elektabilitas Jokowi meningkat terus, pertimbangan Jokowi dalam memilih cawapres bukan apakah cawapres punya elektabilitas tinggi atau tidak, tetapi apakah punya kenyamanan atau tidak dalam bekerja," ujarnya.

Kapolri Tito mengunjungi ulama dan pimpinan ormas IslamDalam perjalanannya beberapa waktu terakhir Kapolri Tito kerap sowan ke sejumlah ulama dan pimpinan ormas Islam. (CNN Indonesia/Huyogo)

Senada, pengamat politik asal Universitas Paramadina Toto Sugiarto juga menyampaikan peluang Tito menjadi cawapres berada di 'tangan' Jokowi. Tingkat elektabilitas Tito yang masih rendah, disebutnya tidak bisa menjadi tolok ukur.

Menurutnya, hasil survei saat ini masih pada tahap awal dan akan terus mengalami perubahan hingga mendekati hari pendaftaran capres dan cawapres pada bulan Agustus mendatang.

Terlebih, Tito belum melakukan 'gerakan politik' apapun hingga hari ini. Toto menilai, berbagai langkah yang dilakukan Tito masih dalam rangka kegiatan atau tugas sebagai seorang Kapolri.


Langkah Tito menyambangi sejumlah ulama atau pemimpin pondok pesantren beberapa waktu terakhir dinilai tidak dapat dikategorikan sebagai langkah untuk merebut kursi cawapres di Pilpres 2019.

"Saya kira masih dalam Kapolri bertemu masyarakat. Ada tentu makna safari politik, tapi masih jauh ditentukan dia menjadi cawapres," ujar dia.


Sementara itu, Kepala Biro Penerangan Masyarakat Humas Polri, Brigjen Mohammad Iqbal ikut angkat bicara terkait pernyataan Mahfud yang menjagokan Tito sebagai cawapres.

"Pendapat pak Mahfud adalah pendapat pribadi beliau. Kami tidak tahu apa alasannya," kata Iqbal, Senin (2/4).

Dia mengklaim Tito masih fokus dalam melaksanakan tugas-tugas sebagai pemimpin Polri hingga saat ini. Ia pun meminta semua pihak tidak menyeret Tito ke ranah politik.

"Biarkan pak Kapolri menjadi penjaga keamanan saja," ucapnya. (DAL/kid)