ANALISIS

Berebut Panggung Politik Lewat Umpatan Kasar

Dhio Faiz , CNN Indonesia | Selasa, 03/04/2018 11:30 WIB
Kata kasar yang kerap digunakan elite politik belakangan dinilai untuk menarik perhatian publik. Minimnya peradaban, kata kasar dianggap sebagai keberanian. Foto ilustrasi. (Thinkstock/yacobchuk)
Jakarta, CNN Indonesia -- Beberapa waktu belakangan, sejumlah politikus terlihat mudah menyelipkan umpatan-umpatan kasar di setiap pernyatannya. Kata kasar dinilai menjadi cara mereka merebut sorotan publik di tengah atmosfer politik yang berisik, saat semua orang memiliki kesempatan untuk berbicara.

Tercatat ada nama Anggota Komisi III DPR RI Arteria Dahlan dan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto yang beretorika dengan menggunakan kata-katas kasar yang ujungnya menimbulkan kontroversi.

Arteria menggunakan kata 'bangsat' dalam rapat kerja antara Komisi III dengan Jaksa Agung Muhammad Prasetyo, di Gedung DPR, Jakarta, Rabu (28/3). Arteria menggunakan kata itu karena geram akan banyaknya kasus penipuan ibadah umrah yang tidak bisa diselesaikan oleh Kementerian Agama.


"Ini Kementerian Agama bangsat pak, semuanya Pak. Saya buka-bukaan," ujar Arteria. Belakangan Arteria sudah meminta maaf atas pernyataan kasarnya ini.


Sementara Prabowo menggunakan kata 'goblok' untuk menuding elite pemerintahan yang tidak mampu mengatasi ketimpangan. Selain itu dia juga menambahkan sebutan 'berhati dingin' dan 'bermental maling'.

"Jangan-jangan karena elite kita yang goblok, atau menurut saya campuran. Sudah serakah, mental maling, hatinya beku, tidak setia pada rakyat. Mereka hanya ingin kaya," kata Prabowo pada Sabtu (31/3) di Cikampek, Jawa Barat, seperti dikutip Antara.


Pengamat komunikasi politik dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Kuskridho Ambardi memang ada tren pengungkapan gagasan oleh politikus menggunakan pilihan kata yang semakin kasar dan cenderung tidak beradab.

Dodi, panggilan akrab Kuskridho, menyebut motif politisi menggunakan kata kasar adalah untuk merebut perhatian.

Politisi PDIP Arteria Dahlan menyebut Kementerian Agama bangsatPolitikus PDIP Arteria Dahlan menyebut Kementerian Agama bangsat terkait pengelolaan ibadah umrah saat rapat dengar pendapat dengan Kejaksaan Agung. (CNN Indonesia/Bimo Wiwoho)

"Di tengah politik yang berisik, di mana setiap orang dengan bebas memberikan pendapatnya, susah bagi politisi untuk mendapatkan perhatian. Maka, ungkapan yang keras dan cenderung kasar menjadi salah satu cara menarik perhatian media," ucap Dodi saat dihubungi CNNIndonesia.com, Senin (2/4).

Dodi menyebut memang politik di Indonesia banyak berisi perang kata-kata, saling sindir, dan saling serang. Akibatnya, retorika dan main kata-kata menjadi dominan ketimbang kejernihan argumen dan sokongan fakta untuk menopang argumen.


Dihubungi terpisah, pakar bahasa dari Universitas Padjadjaran Lina Meilinawati menyampaikan bahasa mencerminkan tujuan dari sang pembicara. Dia menjelaskan pemilihan kata atau diksi melambangkan ekspresi dalam gagasan secara verbal.

"Dari bahasa yang diungkapkan dapat dilihat apakah dia senang menebar bibit-bibit kebencian, menebar permusuhan, ingin menyakiti, bersikap arogan, dan ingin menang sendiri misalnya," kata Lina kepada CNNIndonesia.com, Senin (2/4).

Lebih lanjut dia menjelaskan gaya bahasa yang dipakai Prabowo dan Arteria adalah sarkasme atau sindiran langsung dan kasar. Gaya bahasa ini, tuturnya, bisa menimbulkan efek tertentu, seperti membangkitkan kebencian atau kemarahan dari pendengar.

"Atau agar pendengar teryakinkan dengan kemarahan, kebencian, kekesalan yang sedang diungkapkannya," kata Lina.


Sementara itu, dalam konteks politik, Dodi menambahkan ada pertemuan tren berkata kasar yang dilakukan politikus dengan panasnya ruang publik menjelang tahun politik.

Adab dalam politik tak pernah jadi bahasan serius. Politikus juga, kata Dodi, mendramatisir dengan penggunaan kata kasar sampai lupa batasan antara keras dan kasar.

Dodi menyebut hal ini diperparah oleh forum-forum publik di media sosial yang miskin tradisi keberadaban.

"Sama juga, forum-forum publik di media sosial juga miskin tradisi civility. Jadi klop, ada penawaran dan ada pemintaan," tambahnya.


Dodi menambahkan dalam derajat tertentu penggunaan kata kasar akan menghasilkan poin positif bagi politikus di mata pendukungnya karena sudah kaburnya batasan keras dan kasar di publik Indonesia.

"Dalam derajat tertentu iya (menambah poin positif di mata pendukung) sebab sebagian publik mencampurkan kekasaran dengan keberanian," katanya. (DAL/sur)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK