Debat Pilgub Jatim: Khofifah-Emil Dinilai Lebih Siap Data

Aryo Putranto | CNN Indonesia
Rabu, 11 Apr 2018 11:18 WIB
Debat perdana Pilgub Jatim dinilai masih kurang interaktif dengan calon pemilih. Dua pasangan calon dinilai lebih asyik adu argumen di panggung. Pasangan kandidat Khofifah-Emil Dardak unggul soal data. Namun, gaya komunikasi duet Gus Ipul-Puti juga memukau. Foto: ANTARA FOTO/Zabur Karuru
Jakarta, CNN Indonesia -- Debat pertama dalam ajang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Jawa Timur 2018 digelar kemarin patut dicermati. Utamanya soal performa kedua pasangan kandidat, yakni pasangan Khofifah Indar Parawansa-Emil Dardak dan Saifulloh 'Gus Ipul' Yusuf-Puti Guntur Soekarno.

Pakar komunikasi publik Universitas Airlangga Suko Widodo mempunyai kesan khusus selepas menyaksikan debat kandidat. Ajang adu argumen kemarin mengangkat tema seputar kesejahteraan rakyat.

Menurut Suko, ajang debat itu belum memberikan ruang bagi masing-masing pasangan buat mengerahkan kemampuan terbaik mereka di atas panggung. Namun, dari analisanya, masing-masing pasangan calon punya kelebihan dan kelemahan.


"Pasangan calon nomor satu datanya akurat dan bagus. Namun, gaya komunikasi Gus Ipul lebih soft, berbeda dengan Emil yang agak emosional," kata Suko kepada CNNIndonesia.com, Rabu (11/4).


Soal penyajian data, Suko menyatakan pasangan Khofifah-Emil memang unggul dalam hal itu. Sedangkan bagi duet Gus Ipul-Puti, hal itu menjadi titik lemah mereka. Sebab ketika beradu pendapat, Emil bisa menopang argumennya dengan data. Sedangkan pembahasan Puti, kata dia, terlalu meluas.

Dari sisi gaya komunikasi, Suko menyatakan Khofifah dan Gus Ipul sama-sama memukau. Namun, bagi dia keduanya masih memperlihatkan kelemahan yang sangat penting.

"Hampir semua seolah berbicara dengan diri sendiri. Seolah penonton dianggap tidak tahu. Gestur yang ramah seperti senyuman kurang nampak. Yang ada malah ketegangan. Mungkin karena ini baru pertama," ujar Suko.

Soal dinamika debat, menurut Suko kedua pasangan kandidat masih menyuguhkan debat kusir yang seolah melupakan calon pemilih. Menurut dia, hal itu bisa dipahami lantaran kebiasaan di Jawa Timur berbeda ketimbang daerah lain.


"Di sini enggak terbiasa bertanding. Panitia seharusnya juga harus bisa mengarahkan supaya debatnya konstruktif. Pertanyaannya juga terlalu panjang," ujar Suko.

Sedangkan Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Unair Hari Fitrianto mempunyai penilaian tersendiri soal debat. Yaitu kedua pasangan calon harus bisa membumikan ide, visi-misi yang realistis dan harus terwujud, serta mengurai masalah dengan data dan observasi.

Bagi Hari, pasangan nomor satu dianggap menguasai data sangat rinci. "Ketika Emil menyebut nama seorang anak di Trenggalek yang dia bantu, itu suatu kelebihan. Itu memperlihatkan dia sedang bergelut di tengah masyarakat dan segala masalahnya," kata Hari.

Sedangkan soal argumen Puti, Hari menganggapnya tidak spesifik dan terlalu mengandalkan data dari sudut pandang provinsi. "Terkesan belum menguasai problem di Jatim," ujar Hari.


Dibedah dari sisi gaya komunikasi, Hari menilai Khofifah memiliki kemampuan retorika yang mumpuni. Hal itu dikarenakan Khofifah merupakan seorang menteri memang lihai menyajikan data.

"Walau tidak pandai pidato, tapi dia bisa mencitrakan diri sebagai sebagai pejabat, menteri, dan eksekutif yang membidangi lembaga. Sayangnya bahasa-bahasa bu Khofifah dan penyajian datanya dibiarkan kering tanpa balutan emosi," ujar Hari.

Sedangkan soal gaya komunikasi Gus Ipul seharusnya dia melihat bisa lebih unggul karena dianggap perangainya tenang. Namun, sayangnya kata dia hal itu justru tidak muncul dalam debat kemarin.


"Selama jadi Wagub selama sembilan tahun, dia mestinya bisa menonjolkan sisi humanisme," kata Hari.

Hari menyatakan kedua pasangan kandidat Pilgub Jatim 2018 itu dalam debat selanjutnya harus berbenah. Sebab, mereka mesti bisa merebut hati calon pemilih, ketimbang terjebak dalam debat kusir dan menjual ide-ide yang sulit dipahami warga Jatim.

"Kalau melihat tren debat, itu saya melihat tren positif ke Khofifah-Emil, ketimbang Gus Ipul-Puti," ujar Hari. (ayp/sur)
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA
TERPOPULER