Hal itu diutarakan Yani karena tak ada lagi pasien-pasien baru korban miras oplosan Cicalengka yang datang ke tempatnya.
"Sekarang ini sudah tidak ada pasien (intoksikasi alkohol) yang berkunjung lagi ke sini. Sudah 3-4 hari berkurang sekarang malah sudah tidak ada," kata Yani saat dihubungi, Senin (16/4).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selama masa tanggap darurat, Yani mengatakan pihaknya kedatangan hingga 247 pasien korban miras oplosan. Beberapa di antaranya dirujuk ke rumah sakit lain di Bandung, karena memerlukan penanganan yang lebih intensif.
Ratusan pasien korban miras oplosan yang dirawat pihaknya, kata Yani, berasal dari Cicalengka, Rancaekek (Kabupaten Bandung), Cimanggung (Sumedang), Nagreg (Kabupaten Garut). Rentang usia mulai dari 15-46 tahun.
KLB Dicabut
Dihubungi terpisah, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bandung Achmad Kustijadi menjelaskan, status kejadian luar biasa (KLB) situasional telah dicabut.
"Kita anggap ini tanggap darurat. Artinya, status sudah dicabut sejak Kamis (12/4) kemarin atau seminggu sejak kejadian," ujarnya.
Sehingga dengan dicabutnya status KLB pelayanan rumah sakit kembali normal.
Lihat juga:Miras Oplosan Cicalengka Diracik di Bungker |
Achmad mengatakan total jumlah korban meninggal di Kabupaten Bandung menjadi 44. Tiga di antaranya meninggal di RSUD Majalaya (Kabupaten Bandung) 3 orang dan 7 orang di RS AMC Cileunyi, Kota Bandung.
"Di RSUD Majalaya mencapai 32 orang dan RS AMC ada 30 orang jadi total pasien mencapai 307 orang," jelas Achmad soal para korban nyawa miras oplosan Cicalengka tersebut. (hyg/kid)