Orang Tua Korban Bom Samarinda Menangis Butuh Uang Operasi

CTR, CNN Indonesia | Selasa, 17/04/2018 18:01 WIB
Orang Tua Korban Bom Samarinda Menangis Butuh Uang Operasi Anak-anak korban Bom Samarinda juga mengalami trauma kejiwaan hingga saat ini. Foto: CNN Indonesia/Ciputri Hutabarat
Jakarta, CNN Indonesia -- Orang tua korban Bom Samarinda mengeluhkan mereka tidak mempunyai biaya buat melanjutkan proses operasi sang anak. Menurut salah satu orang tua korban, Marsyana Tiur, dana diberikan oleh pemerintah hanya cukup buat membayar proses operasi pertama.

Marsyana Tiur bahkan sampai berlinang air mata ketika menjelaskan kondisinya di depan majelis hakim, dalam sidang terdakwa teror bom Thamrin, Oman Rochman alias Aman Abdurrahman. Sang anak, Alvaro Aurrelius merupakan korban bom di Gereja Oikumene Samarinda, pada 13 November 2016.

"Biaya operasi sangat besar. Ada kompensasi dari Presiden, tapi itu untuk operasi pertama saja," kata Marsyana sambil menangis di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Selasa (17/4).



Marsyana mengatakan setengah kepala Alvaro mengalami luka bakar saat bom itu meledak. Keluarga sempat membawa Alvaro berobat ke Kuala Lumpur, Malaysia.

Alvaro memang sudah menjalani operasi pertama. Namun, jika ingin pulih betul dia harus menjalani sekitar dua hingga tiga tahap bedah lagi. Bahkan dokter menyatakan Alvaro tidak bakal bisa mempunyai rambut karena lapisan kulitnya rusak.

"Saya jujur ke KL (Kuala Lumpur) modal nekat, saya enggak punya uang. Kemarin dikasih jalan dari Presiden tapi akhirnya saya menyerah," lanjut Marsyana dengan suara parau.


Jaksa lantas meminta Marsyana menyampaikan keluhannya di pengadilan, termasuk soal dana.

"Saya butuh dana operasi kedua saya dan dapat dari bantuan sosial, dari keluarga juga. Saya masih mencari operasi ketiga dan terakhir masih mencari dana," ujar Marsyana.

Sebelumnya, Jaksa menduga Aman Abdurrahmanalias Oman Rochman terlibat dalam aksi serangan bom Gereja Oikumene, Samarinda, Kalimantan Timur. Aman merupakan terdakwa kasus terorisme di lima lokasi di Indonesia.


Adapun terpidana utama dalam bom Samrinda adalah Joko Sugito. Jaksa menduga Sugito dan Aman pernah bertemu di Lembaga Permasyarakatan Nusa Kambangan, Cilacap, Jawa Tengah.

Pada 27 Maret 2017, dalam kesaksiannya, Sugito di PN Jakarta Selatan mengatakan sering merakit bom untuk persiapan akhir zaman. Pemahaman itu diperolehnya setelah mendengar sejumlah ceramah Aman. (ayp)