Kepada Djarot, seperti dikutip dari Antara, Edy menyebutkan adanya kearifan lokal dengan istilah 'Dalihan Na Tolu' yang cukup dikenal di kalangan etnis Batak. Cagub yang berpasangan dengan Musa Rajekshah tersebut pun beranggapan bahwa kearifan lokal bisa dijadikan prinsip dalam pemerintahan.
Menanggapi pertanyaan itu, Djarot menjelaskan bahwa kearifan lokal memang dapat menjadi salah satu dasar pemimpin ketika mengambil keputusan dan kebijakan dalam pemerintahan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Cagub yang berpasangan dengan Sihar Sitorus tersebut, sepakat bahwa kearifan lokal berupa 'Dalihan Na Tolu' dapat dioptimalkan penggunaannya, terutama dalam menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan adat.
Menanggapi itu, Edy kembali mempertanyakan pemanfaatan kearifan lokal dalam etnis Batak tersebut terkait dengan program pengembangan potensi wisata Danau Toba. Pasalnya akan ada 500 hektare lahan yang sebagian milik masyarakat akan digunakan.
Apalagi, kata cagub yang didukung koalisi enam parpol tersebut, di lahan yang akan digunakan itu ada kuburan raja adat dan tanah adat.
Menjawab hal itu, Djarot mengakui kearifan lokal 'Dalihan Na Tolu' baik digunakan di kawasan Danau Toba dengan mengajak para raja dan pengetua adat untuk membahasnya.
Oleh karena itu, sambung cagub yang didukung PDI Perjuangan dan PPP itu, gubernur dan wakil gubernur perlu turun untuk berdialog dengan masyarakat, termasuk dengan masyarakat Sumut yang selama ini dikenal dengan sikap yang keras dan tegas.
"Masyarakat Sumut memang keras, tapi kalau pintar mengambil hatinya, masyarakat Sumut manis dan baik hati," ujar mantan Gubernur DKI Jakarta ini. (antara)