Pengamat politik dari Universitas Diponegoro Teguh Yuwono menilai debat yang berlangsung selama kurang lebih dua jam itu hanya digunakan kedua paslon untuk saling 'menyalahkan'.
"Padahal levelnya debat Gubernur, tapi masih debat kusir mirip debat tingkat RT/RW," kata Teguh saat dihubungi CNNIndonesia.com melalui telepon, Kamis (4/5) malam.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Misalnya, soal ketimpangan dan kemiskinan yang sempat ditampilkan dalam video saat debat, atau tentang masalah semen Kendeng.
[Gambas:Twitter]
Teguh mencontohkannya dengan cagub Sudirman Said yang sibuk mengatakan kinerja cagub Ganjar Pranowo buruk selama memimpin Jateng pada 2013-2018. Namun, mantan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) itu tidak menawarkan solusinya.
"Sementara Ganjar, dia sibuk menunjukkan capaiannya, memperlihatkan data-data statistik peningkatan Jawa Tengah di bawah kepemimpinannya, tapi sekali lagi dia tak menggubris apa lagi yang akan dia lakukan, inovasi apa lagi yang bisa ditawarkan kepada masyarakatnya. Intinya debat ini membosankan," cetusnya.
Senada, Peneliti dari Pusat Penelitian Politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Wasisto Raharjo Jati mengatakan perbedaan debat Pilkada Jateng kali ini dengan yang pertama hanya dari segi komunikasi politik keduanya.
Selebihnya tak ada yang berubah. Masih tetap membosankan, kata Wasis.
Tema yang hendak diangkat KPU pada debat kali ini adalah ekonomi dan kebijakan publik. Sayangnya, kata dia, pembahasannya tak ada yang benar-benar menyentuh masalah konkret di Jawa Tengah.
"Kalau hanya bilang ini ada data sekian angka sekian, warga begini. Itu bukan debat tingkat Gubernur itu hanya pamer," cetus Wasis.
Menurutnya, debat setingkat Gubernur mestinya memiliki pembahasan masalah dan eksplorasi mendalam untuk kemudian menawarkan solusi cerdas. Rangkaian itu harusnya menunjukkan kelayakanan para calon untuk memimpin daerahnya.
Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo saat menjadi saksi dalam sidang lanjutan perkara korupsi e-KTP dengan terdakwa Setya Novanto di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Kamis (8/2). (CNN Indonesia/Safir Makki) |
Saling Serang
Teguh menambahkan bahwa debat selama dua jam itu sedikit terbantu dengan lemparan 'smash' dari kedua pihak. Namun, tak ada pemenang. Misalnya, pernyataan Sudirman soal kasus korupsi proyek e-KTP. Hal itu kemudian dibalas Ganjar dengan 'smash' terhadap rekam jejak Sudirman saat menjabat menteri.
"Seperti tadi misalnya Sudirman mulai berani membahas korupsi, permasalahan KTP elektronik lebih spesifik, dia jadikan itu pola serangan, dan bolanya diterima Ganjar. Mereka saling lempar smash itu istilahnya," katanya.
Selain itu, lanjut Teguh, kedua pasangan menunjukkan perbaikan dibanding debat putaran pertama dalam hal komunikasi politik. Menurutnya, Ganjar tak lagi bertingkah arogan, dan Sudirman sudah lebih percaya diri melemparkan serangan-serangan.
Ganjar sebagai petahana sempat dihantam kontroversi pembangunan pabrik semen di Kendeng, Jateng. Selain itu, ia beberapa kali dipanggil sebagai saksi kasus e-KTP dan disebut sempat menerima suap dalam proyek itu meski selalu dibantah dan belum terbukti.
Sementara, Sudirman diusung Partai Gerindra yang gencar menyuarakan dukungan terhadap pembangunan pabrik semen di Kendeng.
Salahkan Amplop
Ketua KPU Jawa Tengah Joko Purnomo sebagai penyelenggara kegiatan debat ini mengaku telah mempersiapkan materi masalah di Jateng, hingga pertanyaan-pertanyaan yang akan diajukan untuk kedua paslon. Termasuk, permasalahan semen di Kendeng.
"[Soal semen Kendeng] itu ada di pertanyaan, di amplop, tapi mungkin entah bagaimana selalu tak terpilih oleh paslon," dalihnya.
Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto (tengah) bersama Gubernur DKI Anies Baswedan (kiri) dan calon Gubernur Jawa Tengah Sudirman Said (kanan) di Jakarta, 2017. (CNN Indonesia/Abi Sarwanto) |
"Kecuali memang para paslon ini kebetulan tak menyentuh amplop pertanyaan itu," ucap dia.
Namun begitu, pihaknya tak memungkiri jika masih banyak masalah yang belum tergarap di dua kali gelaran debat itu.
Ia menyebut durasi debat yang pendek menjadi salah satu penyebab kedua paslon belum mendalami semua masalah dan menawarkan solusi konkret.
Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo saat menjadi saksi dalam sidang lanjutan perkara korupsi e-KTP dengan terdakwa Setya Novanto di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Kamis (8/2). (
Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto (tengah) bersama Gubernur DKI Anies Baswedan (kiri) dan calon Gubernur Jawa Tengah Sudirman Said (kanan) di Jakarta, 2017. (