Marsinah, Antara Kenangan dan Simbol Perlawanan

Ramadhan Rizky, CNN Indonesia | Selasa, 08/05/2018 13:47 WIB
Marsinah, Antara Kenangan dan Simbol Perlawanan Kasus pembunuhan Marsinah sampai saat ini tidak terungkap, dan dia tetap menjadi simbol perlawanan kaum buruh di Indonesia sampai kapan pun. (ANTARA FOTO/Agus Bebeng)
Jakarta, CNN Indonesia -- Tepat 25 tahun lalu, 8 Mei 1993, Marsinah ditemukan terbujur kaku di wilayah hutan Wilangan, Nganjuk, Jawa Timur. Marsinah merupakan buruh sekaligus aktivis di perusahaan alroji di daerah Sidoarjo, Jawa Timur.

Marsinah hilang setelah memimpin demonstrasi dan mogok massal buruh di tempatnya bekerja, PT. Catur Putra Surya, pada 5 Mei 1993.

Saat itu, ia dan rekan-rekannya menuntut upah layak bagi para buruh yang bekerja di PT. Catur Putera Surya. Berdasarkan surat edaran Nomor 50/Th. 1992, Gubernur KDH Jawa Timur menghimbau agar pengusaha menaikkan gaji karyawan mereka sebesar 20 persen gaji pokok.


Saat itu, unjuk rasa dipimpin Marsinah dinilai terlalu frontal. Ia disebut-sebut sebagai penggerak massa. Karena aksinya itu, Marsinah kemudian ditangkap dan dibunuh. Hingga kini, pembunuhnya tak juga ditangkap maupun diadili.


Sosok Marsinah selalu terngiang saban kali buruh memperjuangkan haknya, semisal ketika peringatan Hari Buruh pada 1 Mei. Namanya kekal digaungkan dan dia dijadikan simbol perjuangan kaum buruh untuk menyuarakan kehidupan yang layak.

Aktivis buruh dari Federasi Buruh Lintas Pabrik (FBLP) Jumisih menganggap sosok Marsinah jadi representasi perjuangan kaum buruh Indonesia sekaligus simbol keberanian dalam menggelorakan perlawanan.

"Pada masanya, Marsinah melakukan hal luar biasa, memperjuangkan hak buruh, dia simbol buruh perempuan yang berani," kata Jumisih kepada CNNIndonesia.com, Senin (7/5).

Semasa rezim Orde Baru, Marsinah berada di barisan paling depan ketika memperjuangkan keadilan. Dia menjadi martir dalam melawan penindasan bagi buruh saat itu.
25 Tahun Kematian Marsinah, Antara Kenangan dan PerlawananMarsinah menjadi simbol perlawanan kaum buruh Indonesia. (ANTARA FOTO/Arif Firmansyah)


Marsinah dikenal karena aksinya yang menuntut kesejahteraan bagi buruh, khususnya bagi buruh perempuan. Ia acap kali menyuarakan kelayakan upah minimim regional, cuti hamil dan upah lembur bagi para perempuan di tengah rongrongan rezim yang represif.

"Marsinah melakukan itu karena ketulusan, tak hanya dirinya tapi juga melakukan itu demi teman-temannya [buruh] yang lain. Jadi itu inspirasi luar biasa," kata dia.


Kesulitan Tetap Berlanjut

Jumisih menilai bahwa perjuangan Marsinah saat itu telah menunjukan betapa ringkihnya kondisi wajah buruh Indonesia. Kondisi itu bergulir hingga saat ini.

Kondisi buruh Indonesia saat ini, kata Jumisih, tak jauh berbeda dengan kondisi terjadi saat masa Marsinah masih hidup. Pemerintah dianggap menganaktirikan para buruh dan lebih mementingkan keinginan para pemodal.

"Pemerintah (berpihak) melulu ke investor. Itu bikin kehidupan buruh semakin tertindas sejak dulu," kata dia.

Jumisih mengatakan buruh selalu dipersulit dalam memperoleh hak-haknya. Seperti upah yang layak, cuti hamil dan haid bagi buruh perempuan, hingga alih daya (outsourcing).
25 Tahun Kematian Marsinah, Antara Kenangan dan PerlawananAksi renungan kematian Marsinah. Dia menjadi simbol perlawanan kaum buruh Indonesia. (ANTARA FOTO/Agus Bebeng)


"Perjuangan upah layak juga masih berlangsung sampai saat ini, sekarang buruh perempuan untuk ngambil cuti haid juga banyak dipersulit. Meski sekarang ada kebebasan berorganisasi, tetapi menemukan kesulitan di lapangan," kata Jumisih.

Tak berhenti sampai disitu, pemerintah justru menerbitkan Peraturan Presiden Nomor 20 tahun 2018 tentang Penggunaan Tenaga Kerja Asing, di tengah minimnya perlindungan dan keberpihakan terhadap buruh lokal Indonesia.

Dalam perhelatan Hari Buruh Internasional atau May Day pada 1 Mei beberapa waktu lalu, berbagai serikat buruh menuntut pencabutan Peraturan Presiden Nomor 20 Tahun 2018 tentang Penggunaan Tenaga Kerja Asing (Perpres TKA) dan menolak kehadiran TKA buruh kasar dari China.


Perpres itu dinilai para buruh telah melenceng dari tujuan investasi yang masuk ke Indonesia untuk mengurangi angka kemiskinan dan menciptakan lapangan kerja baru bagi rakyat Indonesia.

Akan tetapi, investasi itu justru berpotensi tidak memberikan manfaat untuk pekerja lokal, tetapi malah menguntungkan tenaga kerja asing yang masuk ke Indonesia.

"Yang dibutuhkan itu kesanggupan pemerintah memiliki keberpihakan terhadap kaum yang lemah. Siapa yang lemah? Ya buruh. Pelaksanaannya, dalam pengawasannya, ada regulasi tapi tak diawasi malah bisa jadi masalah," ungkap Jumisih.

Jasad Marsinah ditemukan terbunuh setelah menghilang tiga hari. Pada jasadnya ditemukan tanda-tanda bekas penyiksaan berat.

Polisi setahun kemudian mengungkap otak di balik kejahatan itu petinggi pabrik yang melibatkan satpam. Namun pembuktian gugur di tingkat pengadilan kasasi. Sejak itu muncul dugaan pembunuhan Marsinah telah direkayasa oleh rezim penguasa.

Presiden Megawati Soekarnoputri pada 2002 telah menyetujui rencana Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) untuk mengusut kasus Marsinah. Sidang pleno Komnas HAM memutuskan membuka kembali kasus Marsinah karena ditemukannya bukti-bukti baru yang sebelumnya tidak muncul.
25 Tahun Kematian Marsinah, Antara Kenangan dan Perlawanan25 Perempuan Pembela Demokrasi menggelorakan kembali perjuangan Marsinah. (CNN Indonesia/Rebeca Joy Limardjo)


Akan tetapi berbagi upaya untuk mencari dalang pelaku pembunuhan Marsinah itu tak berjalan maksimal dan menguap begitu saja. Berbagai upaya pencarian fakta tentang dalang kematian Marsinah hingga saat ini belum menemui titik terang.

Semangat Marsinah yang berjuang menuntut hak kesejahteraan kaum buruh hingga kini terus diabadikan dan dijadikan api semangat yang terus disuarakan oleh kaum buruh dan para aktivis HAM lainnya hingga saat ini.

Untuk mengenang heroiknya perjuangan Marsinah saat itu, berbagai kisahnya pernah diangkat ke berbagai budaya populer.

Kisah Marsinah pernah diangkat ke layar lebar oleh aktor kawakan, Slamet Rahardjo dengan judul 'Marsinah: Cry Justice'. Marsinah juga pernah menjadi inspirasi Ratna Sarumpaet dalam monolognya yang berjudul 'Marsinah Menggugat'.

Bahkan, baru-baru ini sekolah tempat Marsinah pernah menimba ilmu di SMA Muhammadiyah 1 Nganjuk menobatkannya sebagai pejuang dan pahlawan buruh Indonesia. Hal itu diberikan untuk mengapresiasi kiprahnya dalam memperjuangkan kesejahteraan buruh.



(ayp/gil)