"Warga Muhammadiyah tidak boleh ikut-ikutan gerakan politik melalui perang tagar," cetus dia, di Ponorogo, Selasa (8/5).
"Untuk hashtag #2019GantiPresiden dan #DiaSibukKerja itu, Muhammadiyah bukan berarti tidak setuju atau setuju, tetapi tidak ikut-ikutan," imbuh dia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tahun 2019 itu kontestasi politik resmi dimana akan ada Pemilihan Presiden, [anggota] legislatif, DPR, dan DPD, maka silahkan saja, setiap orang untuk memilih aspirasi politiknya. Nanti hasilnya ya sesuai dengan aspirasi yang terbesar," tuturnya.
Bagi Haedar, Muhammadiyah menempatkan diri sebagai Organisasi Kemasyarakatan (Ormas), bukan sebagai kekuatan politik. Pihaknya harus bergerak dalam kegiatan sosial, seperti dakwah, membangun sekolah, dan membangun Rumah Sakit (RS).
"Tapi dalam konteks kebangsaan, warga Muhammadiyah harus turut membangun moralitas dan kehidupan kebangsaan yang luhur," tandas dia.