Di tengah-tengah acara, mereka terkejut setelah mendengar letusan dan melihat semburan asap yang muncul dari puncak Gunung Merapi.
Sarijo dari Komunitas Lereng Gunung Merapi menjelaskan, dirinya mendapat laporan dari anggota komunitas yang saat itu ikut dalam acara Sadaranan tersebut. Koleganya itu menceritakan bahwa acara dimulai sekitar pukul 07.00 WIB, kemudian sekitar 30 menit berselang terjadi letusan dan semburan asap di puncak merapi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saat dentuman itu warga kaget karena ada aktivitas acara Nyadran dan aktivitas lainnya. Warga sempat berlari turun ke arah perkampungan untuk berlindung," tutur Sarijo.
Oleh karena itu setelah merasa yakin bahwa letusan yang terjadi tidak terulang lagi, warga segera kembali melakukan aktivitas seperti sediakala.
Sarijo menambahkan, pihak Taman Nasional Gunung Merapi juga mengeluarkan surat edaran agar tidak melakukan pendakian ke puncak Gunung Merapi. Ia pun meminta para pendaki menaati aturan tersebut.
"Surat edaran TNGM diterbitkan pada pukul 10.00 WIB, jalur pendakian dari Selos dan Sapu Angin di tutup. Yang berhubungan dengan aktivitas di sekitar puncak merapi tidak diizinkan sementara," kata Sarijo.
Sementara itu, Kepala Seksi Gunung Merapi Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Agus Budi Santoso menyatakan bahwa letusan Gunung Merapi yang terjadi tidak tergolong berbahaya bagi masyarakat. Namun, masyarakat tetap diimbau waspada terutama yang tinggal dalam radius lima kilometer.
Saat ini BPPTKG menurut Agus masih mengumpulkan data hasil pengamatan Gunung Merapi. Data ini yang akan dipakai untuk memutuskan langkah terkait mitigasi bencana.
Ia juga mengimbau warga tidak mendekat puncak Merai dalam radius 5 km, terutama para pendaki agar diminta turun. (osc/pmg)