Bom Surabaya, Polri dan BIN Desak Revisi RUU Terorisme

Kustin Ayuwuragil, CNN Indonesia | Minggu, 13/05/2018 14:22 WIB
Bom Surabaya, Polri dan BIN Desak Revisi RUU Terorisme Tiga gereja di Surabaya diguncang tiga ledakan bom pada Minggu (14/5) pagi, sementara pada siang hari empat terduga teroris ditembak mati di Cianjur. (AFP PHOTO / JUNI KRISWANTO)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kepolisian Republik Indonesia mendesak pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat mempercepat penyelesaian revisi Undang-undang Nomor 15 Tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme (UU Terorisme).

Polisi menyebut payung hukum itu sangat penting untuk mencegah kasus-kasus terorisme.

"UU terorisme sekarang sifatnya responsif, jadi kalo belum bertindak tidak bisa ditangkap. Kami berharap petugas Polri diberikan kewenangan upaya preventif," kata Kepala Divisi Humas Polri pengganti Irjen. Pol. Boy Rafli Amar dalam konferensi pers mengenai tertangkapnya enam terduga teroris di Cianjur, Jawa Barat di Mabes Polri, Minggu (13/5).

Setyo berpendapat ketiadaan payung hukum itu membuat Polri maupun Densus 88 kesulitan untuk langsung menangkap sel-sel tidur terorisme meski pihak yang berwajib sudah mengetahui rencana mereka.


"Harapannya kalau sudah terafiliasi dengan salah satu (organisasi teroris) maka bisa ditangkap dan diproses. Kalau ada bahan peledak peluru tanpa izin bisa dikenakan UU terorisme. Tapi sekarang nggak," lanjutnya.

Hal senada juga diungkapkan Wawan Purwanto Direktur Komunikasi dan Informasi BIN yang menganggap penundaan penindakan oleh polisi adalah karena akibat payung hukum yang saat ini.

"Sebelum ada bukti permulaan yang cukup, tidak ada kewenangan untuk dilakukan penindakan. Ini yang berupaya diubah di UU Antiteror yang baru. Kalau tidak ada bukti yang cukup, sekarang tidak bisa diapa-apakan," ujar Wawan.

"Kalau dulu sebelum reformasi masih boleh, tangkap dulu baru buktikan. Kalau sekarang jadinya wait and see, jadinya delay-delay".

Baru beberapa hari silam, Menteri Pertahanan (Menhan) Ryamizard Ryacudu juga meminta hal yang sama menyusul aksi teror di dalam Mako Brimob. Ia juga mendukung penuh masuknya keterlibatan TNI dalam memberantas terorisme di Indonesia, dalam revisi UU tersebut.

Di Cianjur, Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror menembak mati empat orang terduga teroris di Terminal Pasirhayam, Desa Sirnagalih Kecamatan Cilaku, Cianjur, Jawa Barat, pada Minggu (13/5).

Ini terjadi hanya beberapa jam setelah bom meledak di tiga gereja berbeda di Surabaya yang menewaskan 10 orang dan membuat puluhan lainnya terluka.
(vws)