Kesaksian Tragedi Bom Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela

ANTARA, CNN Indonesia | Senin, 14/05/2018 09:04 WIB
Kesaksian Tragedi Bom Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela Elly tak mampu menyelesaikan ceritanya usai kejadian ledakan karena tubuhnya bergetar. Kesaksian soal bom di gereja Surabaya itu ia tutup dengan tangisan. (ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pagi itu, Minggu (13/5), Iman tidak berada jauh dari lokasi Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela di wilayah Ngagel, Surabaya, Jawa Timur.

Ia kebetulan melewati kawasan setempat setelah mengisi bahan bakar minyak untuk kendaraanya.

Iman tiba-tiba terkejut karena mendengar suara ledakan keras, tidak jauh dari lokasi ia berada. Ia kemudian menghentikan laju mobil Avanza yang dikendarainya. Sempat bertanya kepada warga sekitar mendapatkan jawaban bahwa ledakan itu bersumber dari trafo karena korsleting listrik.


Berusaha tidak menghiraukan, kaki Iman kemudian perlahan-lahan kembali menginjakkan pedal gas untuk melanjutkan laju mobilnya yang sempat terhenti beberapa menit akibat kaget.

Namun, betapa kagetnya ia ketika ada rombongan sekeluarga tiba-tiba menghentikan laju mobil Iman dan meminta diantarkan ke rumah sakit terdekat.

Tanpa berpikir panjang, pria yang mengaku bekerja di sebuah kantor di Surabaya itu langsung membuka pintu dan mempersilakan rombongan keluarga menaiki mobilnya.


Pedal gas pun diinjak kembali lebih dalam untuk mempercepat laju mobil menuju Rumah Sakit Bedah Surabaya di Jalan Manyar.

Ia melihat orang tua yang kepalanya terluka dan membutuhkan perawatan segera.

Hal itu yang membuat ia tidak berpikir panjang untuk menanyakan apa yang terjadi, dan kemudian mengantarkan mereka ke rumah sakit.

Sesampainya di rumah sakit, Iman baru tahu bahwa keluarga yang diantarakannya itu adalah salah satu korban ledakan bom. Beberapa menit kemudian korban lainnya berdatangan ke rumah sakit tersebut untuk mendapatkan perawatan.

Matahari pun masih tampak terlihat belum meninggi. Jam dinding di rumah sakit itu menunjukkan waktu sekitar pukul 09.00 WIB. Iman bergegas menelepon salah satu stasiun radio di Surabaya untuk melaporkan apa yang ia alami beberapa menit sebelumnya.
Kesaksian Tragedi Bom Gereja Katolik Santa Maria Tak BercelaPresiden Joko Widodo dan petinggi pemerintahan meninjau lokasi bom di Surabaya. (REUTERS/Beawiharta)

Suaranya terdengar agak terpatah-patah karena mengingat suara ledakan cukup keras yang ia dengar sebelumnya dan membuat tertekan. Dalam laporan itu, Iman terdengar masih tegar dengan menjelaskan secara detail kronologi kejadian yang ia alami.

Berbeda dengan Elly. Ia tidak mampu menyelesaikan ceritanya usai kejadian ledakan karena tubuhnya bergetar. Cerita kejadian itu ia tutup dengan tangisan.

Elly yang salah satu jemaat Gereja Santa Maria Tak Bercela Ngagel itu, mengaku syok atas kejadian yang dia alami. Penjelasannya terkait dengan peristiwa ledakan di lokasi gereja itu tidak bisa disampaikan secara detail.

Selama 40 tahun lebih berada di Surabaya, ia menyebut tidak pernah mengalami kejadian seperti itu.

"Saya melihat banyak korban yang ingin saya tolong, namun dilarang anak saya dan ditarik untuk segera pergi dari lokasi karena tidak aman," tutur Elly. Ia pun kemudian tidak mau kembali bercerita.


Ungkapan Iman dan Elly itu sepenggal kisah yang dialami masyarakat akibat peristiwa ledakan bom di tiga lokasi di Surabaya, yakni Gereja Santa Maria Tak Bercela Ngagel, GKI Jalan Diponegoro, dan Gereja Pantekosta Jalan Arjuna.

Rentetan bom mengguncang tiga gereja di Surabaya. Belasan orang tercatat jadi korban dan puluhan lainnya mengalami luka-luka.

Aksi teror bom Surabaya menjadi sorotan dunia. Presiden Joko Widodo langsung meninjau lokasi pada hari yang sama. Jokowi mengecam aksi teror tersebut.

Kapolri Jenderal Tito Karnavian berharap pemerintah bisa menerapkan aturan yang memberi keleluasaan bagi aparat menindak para terduga teroris. Aksi teror bom Surabaya memicu percepatan revisi undang-undang tentang pemberantasan terorisme di Indonesia.