'Ini kan kita agak susah mendeteksi karena itu sebenarnya mereka [anak kecil] itu korban. Jadi kita mendeteksinya harus lebih jeli lagi. Karena keterlibatan mereka sebagai korban," ujar Setyo di Mabes Polri, Jakarta, Jumat (18/5).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kendati demikian, Setyo menegaskan polisi akan tetap mengamankan anak-anak yang mencurigakan. Bentuknya, pendeteksian lebih dini terhadap anak-anak.
Diketahui, empat anak pelaku teror di Surabaya dan Sidoarjo yang berhasil selamat adalah AR (15), FP (11), dan GHA (11). Ketiganya adalah anak Anton Febriantono, terduga teroris yang tewas setelah bom meledak di rumahnya di Rusun Wonocolo, Sidoarjo, pada Minggu (13/5).
Satu anak lain yang selamat berinisial AIS, anak pelaku bom bunuh diri di Polrestabes Surabaya, Senin (14/5). Anak 8 tahun itu selamat setelah terlempar saat ledakan. Sementara empat orang tewas dalam peristiwa tersebut, yaitu ayah, ibu, dan dua kakaknya.