Kenangan Jimly Asshiddiqie di Malam Sebelum Soeharto Mundur

Mesha Mediani, CNN Indonesia | Senin, 21/05/2018 23:17 WIB
Kenangan Jimly Asshiddiqie di Malam Sebelum Soeharto Mundur Saat 1998, Jimly Asshiddiqie menjabat Asisten Wakil Presiden B.J. Habibie. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Ketua Umum Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Jimly Asshiddiqie mengenang peristiwa lengsernya Presiden ke-2 RI Soeharto pada 21 Mei 1998, 20 tahun reformasi.

Saat itu, Jimly menjabat sebagai Asisten Wakil Presiden RI B.J. Habibie. Dia mengenang malam sebelum Soeharto menyatakan berhenti sebagai presiden.

"Alhamdulillah, tepat hari ini tadi pagi jam 09.00 WIB, Soeharto menyatakan mundur dari jabatan presiden. Sesudah malamnya saya mendampingi Pak Habibie menerima para menteri yang mengundurkan diri, di rumah beliau malam-malam," kata Jimly membuka sambutannya pada acara Refleksi 20 Tahun Kebangsaan di Jakarta, Senin (21/5).



Jimly menuturkan Habibie malam itu menelepon ajudan Soeharto untuk disediakan waktu bertemu dengan orang nomor satu di Indonesia itu. Kemudian, telepon itu diserahkan kepada Menteri Sekretaris Kabinet Saadillah Mursyid.

"Pak Mursyid bicara langsung ke Pak Habibie. Intinya, 'Pak Habibie tidak perlu bertemu Presiden malam ini. Besok Presiden akan menyatakan berhenti dari jabatannya. Dengan kata lain, akan berhenti besok'," kata Jimly menirukan ucapan Mursyid.

"Kita semua di ruangan Pak Habibie kaget, gembira. Kaget dengan segala macam," ujarnya melanjutkan.

Saat itu, Jimly pun didapuk seisi ruangan untuk memimpin doa yang juga dihadiri oleh Ainun Habibie. Menurut Jimly, doa itu terkabul 20 tahun kemudian.


"Kita genaplah berdoa bersama mendoakan Indonesia, mendoakan reformasi berjalan mulus, mendokan Pak Harto dan mendoakan Pak Habibie," kata Jimly.

Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi itu membandingkan reformasi 1998 Indonesia dengan reformasi Malaysia. Isu-isu reformasi Malaysia, kata Jimly, terkait antikorupsi, antikolusi, antinepotisme, dan kemandirian ekonomi.

Jimly pun mengucapkan selamat atas terpilihnya kembali Mahatir Mohamad sebagai perdana menteri Malaysia. Menurutnya, reformasi 1998 ala Indonesia baru terjadi sekarang di Malaysia.

"Semua kezaliman, kekerasan verbal, semua kekejian dalam politik di mana hukum diperalat untuk kepentingan politik jangka pendek berakhir. Rakyat telah menentukan dan alhamdulillah Mahatir memenangkan suara itu," kata Jimly.


Jimly mengajak masyarakat Indonesia bersyukur karena proses demokrasi di Indonesia berjalan lancar, begitu pula regenerasi kepemimpinannya.

"Kita harus renungkan regenerasi Malaysia terhenti 20 tahun. Mundur ke belakang. Pak Mahatir jadi PM tertua dalam sejarah, saingannya hanya ratu inggris," ujarnya. (pmg/pmg)