"Saya berangkat ke sana minta tolong diinformasikan lebih awal supaya saya tahu. Kan enggak dikasih tahu, tahu-tahu belakangan sudah masuk Indonesia, pintunya banyak," ucap Suhardi di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (22/5).
Ia mengatakan andai diinformasikan lebih awal, maka jajarannya dapat mendeteksi dan bersiap lebih awal terutama untuk deradikalisasi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Akibatnya, pimpinan keluarga itu mendoktrinasi kepala keluarga, pelaku teror di Surabaya beberapa waktu lalu.
"Agar dimonitor di mana mereka tinggal, bergaul. Jangan sampai lepas, karena saya tidak yakin dalam satu bulan sudah radikal," tuturnya.
Lihat juga:Menhan Anggap Pelaku Teror Orang Gila |
Selan itu, Suhardi menyambut baik kemungkinan besar revisi UU Tindak Pidana Terorisme sah Jumat mendatang (25/5). Ia menilai hal itu dapat membantu jajarannya mendeteksi lebih cepat terduga teroris terutama yang bakal jihad ke Suriah.
"Bisa kami investigasi. Jadi mereka akan berpikir dua kali kalau akan berangkal. Kami bisa tanya ngapain di sana," Suhardi menegaskan. (kid)