Sumarsih Kecewa Jokowi Tak Singgung 20 Tahun Reformasi

Priska Sari Pratiwi, CNN Indonesia | Kamis, 24/05/2018 20:07 WIB
Sumarsih Kecewa Jokowi Tak Singgung 20 Tahun Reformasi Saat Aksi Kamisan, Sumarsih, ibu korban Tragedi Semanggi 1998 kecewa, tak ada ucapan apalagi peringatan dari Presiden Jokowi bertepatan 20 tahun reformasi. (REUTERS/Willy Kurniawan)
Jakarta, CNN Indonesia -- Maria Katarina Sumarsih tak dapat menyembunyikan kekecewaannya pada Presiden Joko Widodo. Tak ada ucapan apalagi peringatan bertepatan 20 tahun reformasi dari orang nomor satu di Indonesia itu.

"Tidak ada statement sama sekali. Di media sosial, media massa, tidak pernah baca statement dari Pak Presiden," ujar Sumarsih di tengah Aksi Kamisan di depan istana negara, Kamis (24/5).

Pada Aksi Kamisan ke-539 hari ini, Sumarsih dan beberapa lembaga seperti Kontras dan Jaringan Relawan Kemanusiaan kembali menyampaikan tuntutan pada pemerintah untuk menyelesaikan pelanggaran HAM berat masa lalu.



Mereka membawa payung hitam dan membentangkan spanduk bertuliskan "Bukti dan saksi masih ada, Jokowi ke mana?" di seberang Istana Negara. Sumarsih mengaku kecewa karena di Aksi Kamisan yang bertepatan dengan peringatan 20 tahun reformasi ini Jokowi tak sedikit pun memberikan tanggapan.

"Reformasi itu dicapai dengan susah payah, dengan pengorbanan darah dan nyawa manusia. Mestinya Pak Jokowi melaksanakan enam agenda reformasi," katanya.

Sumarsih adalah ibu korban Tragedi Semanggi I. Putranya, BR Norma Irmawan alias Wawan, mahasiswa Universitas Atmajaya Jakarta yang tewas ditembak tentara saat demonstrasi memperjuangkan reformasi, 13 November 1998.
Sumarsih Kecewa Jokowi Tak Singgung 20 Tahun ReformasiPresiden Joko Widodo saat mengendarai motor chopper di Pelabuhanratu. (ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari)


Tercatat ada enam agenda reformasi pascalengsernya Presiden Soeharto pada 1998 yakni adili Soeharto dan kroni-kroninya, amendemen UUD 1945, hapuskan dwifungsi ABRI, hapuskan Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN), otonomi daerah seluas-luasnya, dan tegakkan supremasi hukum.

"Ini harapan saya Pak Jokowi bisa mewujudkan visi misi nawacita dan itu bentuk dari pelaksanaan reformasi," ucap Sumarsih.

Aksi Kamisan konsisten digelar tiap pekan. Mereka libur aksi hanya ketika Kamis bertepatan dengan tanggal merah. Aksi tersebut paling sedikit dihadiri delapan orang.

Dalam laman aksikamkisan.net, gelaran Aksi Kamisan dengan berdiam diri dipilih karena 'diam' bukan berarti kehilangan hak-hak sebagai warga negara. Sementara 'berdiri' melambangkan korban pelanggaran HAM, warga negara yang tetap mampu berdiri di atas haknya.

(pmg)