Jokowi Sebut Ideologi Terorisme Telah Masuk ke Sekolah

Wishnugroho Akbar, CNN Indonesia | Rabu, 23/05/2018 08:36 WIB
Jokowi Sebut Ideologi Terorisme Telah Masuk ke Sekolah Presiden Jokowi menekankan pentingnya pendekatan lunak di samping pendekatan hard power dalam mencegah aksi terorisme. (ANTARA FOTO/Wahyu Putro A)
Jakarta, CNN Indonesia -- Presiden Joko Widodo menyatakan ideologi terorisme sudah masuk ke sekolah. Oleh karena itu dia menekankan pentingnya soft power atau pendekatan lunak di samping hard power dalam mencegah aksi teror. 

Pendekatan lunak yang dilakukan, menurut Jokowi, bukan hanya dengan memperkuat program deradikalisasi kepada mantan napi teroris, tetapi juga memperhatikan lembaga-lembaga pendidikan mulai dari TK, SD, SMP, SMA, SMK, Perguruan Tinggi, dan ruang-ruang publik, mimbar-mimbar umum dari ajaran-ajaran ideologi terorisme.

Menurut Jokowi, langkah pencegahan ini penting setelah melihat serangan teror bom bunuh diri di Surabaya dan Sidoarjo yang mulai melibatkan keluarga, perempuan, dan anak-anak di bawah umur.


"Ini menjadi sebuah peringatan kepada kita semuanya, menjadi wake up call betapa keluarga telah menjadi target indoktrinasi ideologi terorisme," ujar Presiden Jokowi seperti dikutip dalam situs resmi Sekretariat Kabinet, kemarin.
Jokowi Sebut Ideologi Terorisme Telah Masuk ke SekolahTerorisme dinilai Jokowi tak cukup dilawan dengan pendekatan keras, namun juga dengan pendekatan lunak. (CNN Indonesia/Abi Sarwanto)

Menurut Jokowi, pendekatan hard power yang lebih mengedepankan penggunaan tindakan pencegahan sebelum aksi teror dilakukan sangat diperlukan, tetapi belum cukup untuk mencegah aksi terorisme.

"Sudah saatnya kita juga menyeimbangkan dengan pendekatan soft power," ujar Presiden.

Kejahatan Luar Biasa

Presiden Jokowi sebelumnya juga mengingatkan bahwa terorisme adalah kejahatan yang luar biasa terhadap negara, bangsa, dan kemanusiaan. Ia mengatakan hampir semua negara di dunia menghadapi ancaman kejahatan terorisme ini.

"Ancaman terorisme bukan hanya terjadi di negara-negara yang sedang dilanda konflik, tapi juga di negara-negara maju seperti Amerika Serikat, di Uni Eropa juga sedang menghadapi ancaman yang sama," ujarnya.

Sebagai kejahatan yang luar biasa, kata Jokowi, terorisme harus dihadapi, diperangi dengan cara-cara yang juga luar biasa.

Menurutnya, selama ini fokus perhatian semua pihak lebih banyak pada pendekatan hard power, dengan lebih mengedepankan penggunaan tindakan pencegahan sebelum aksi teror dilakukan.

Pendekatan hard power juga tercermin dalam penegakan hukum yang tegas, keras, dan tanpa kompromi dengan memburu dan membongkar jaringan teroris sampai ke akar-akarnya.

Meski dibutuhkan, Presiden menilai pendekatan hard power itu belum cukup sehingga ia menyatakan perlunya menyeimbangkan pendekatan hard power itu dengan soft power.