Sakit di Penjara, Dosen USU Tersangka Hoaks Dibawa ke RS

Ihsan Dalimunthe, CNN Indonesia | Jumat, 25/05/2018 07:32 WIB
Sakit di Penjara, Dosen USU Tersangka Hoaks Dibawa ke RS Foto ilustrasi. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kondisi kesehatan dosen Universitas Sumatera Utara (USU) Himma Dewiyana Lubis (46), yang ditangkap polisi setelah menulis status tentang bom Surabaya semakin buruk dan mendapat perlakuan tidak manusiawi.

Tim kuasa hukum Himma, Chairul Munadi mengungkapkan sejak awal diperiksa, kondisi Himma memang sedang sakit. Selain tekanan psikis yang sangat besar, Himma juga memiliki riwayat penyakit vertigo.

Menurut Chairul, Himma bahkan sempat pingsan usai diperiksa Mapolda Sumut dan 'dipamerkan' di depan wartawan peliput. Setelah pingsan, Himma hanya dibawa ke klinik dan langsung dikembalikan ke penjara untuk ditahan.


"Kondisinya sakit, tapi pemeriksaan dilakukan secara maraton seharian penuh. Tim kuasa hukum dilarang melakukan pendampingan. Ini tidak manusiawai. Seperti sedang memeriksa residivis atau gembong narkoba," kata Chairul kepada CNNIndonesia.com, Kamis (24/5).


Keesokan harinya, saat Chairul dan tim kuasa hukum berkunjung ke sel, kondisi Himma semakin drop. Namun kepolisian menurut Chairul  mendiamkan kondisi dosen Ilmu Perpustakaan dan ahli arsip USU itu bersama 11 wanita penghuni penjara lainnya. Chairul menilai kondisi penjara yang kelebihan kapasitas itu jelas membuat kondisi Himma semakin parah.

"Saat di sel, di depan saya ibu itu kembali pingsan. Akhirnya kami putuskan untuk dibawa ke RS Bhayangkara Medan. Rawat inap sampai hari sekarang," katanya.


Menurut rencana tim dokter, Himma akan dilakukan tindakan berupa pemindaian di bagian kepala, Jumat (25/5). Hingga saat ini, kondisi Himma masih belum membaik dan menurut Chairul masih belum bisa banyak berbicara karena kebanyakan menangis.

"Ibu Himma memikirkan kondisi ibunya yang sedang sakit dan tiga anaknya di rumah," ujarnya.

Ajukan Penangguhan Penahanan

Selaku Sekretaris Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) Medan, Chairul mengakui pihaknya bersama KAHMI dan rektor USU sedang berupaya untuk meminta penangguhan terhadap Himma.

Sebetulnya surat penangguhan dan surat jaminan dari keluarga KAHMI Medan sudah diajukan, namun pihak kepolisian bergeming.

"Informasi terkahir Rektor USU akan segera mengeluarkan juga surat penangguhan penahanan itu. Alhamdulillah rektor sudah makin terbuka," tuturnya.


Chairul optimis jika penangguhan dan bahkan penghentian kasus atau SP3 akan dikabulkan. Pasalnya pasal 28 UU ITE tentang ujaran kebencian yang digunakan polisi jelas lemah. Tidak ada unsur kesengajaan yang dilakukan Himma saat menuliskan status di akun media sosialnya.

Himma, kata Chairul, jelas ada niatan untuk memecah belah bangsa menggunakan unsur SARA. Selain itu, dari rekam jejaknya, Himma adalah ahli arsip dan aktif di berbagai penelitian. Dia tidak pernah tercatat pernah melakukan tindakan kriminal.

Menurut Chairul, Himma menuliskan status itu berdasarkan kondisi yang terjadi pada saat ini. Hal itu juga ramai dibicirakan oleh masyarakat. Atas nama kemanusiaan, polisi seharusnya sudah melepaskan Himma yang kondisinya terus memburuk.

"Jadi polisi menjeratnya dengan pasal karet. Atas nama kemanusiaan kami yakin Himma bisa bebas," tegasnya.


Sebelumnya, Pemerintahan Mahasiswa (PEMA) USU berencana kembali menggelar unjuk rasa menuntut penangguhan proses hukum terhadap dosen mereka.

"Dalam waktu dekat. Mungkin pekan ini atau Kamis pekan depan kami akan aksi lagi," kata Fahrul Rozi Panjaitan, Menteri Kajian Strategi dari PEMA USU saat dihubungi CNNIndonesia.com, Kamis (24/5).

Himma ditangkap Polda Sumatera Utara di rumahnya pada Sabtu (19/5). Dia ditetapkan sebagai tersangka kasus penyebaran hoaks setelah menulis status di akun facebook terkait rangkaian bom bunuh diri di tiga gereja di Surabaya, beberapa waktu lalu.

Dalam statusnya Himma menyebut peristiwa itu sebagai pengalihan yang sempurna.

"Skenario pengalihan yang sempurna... #2019GantiPresiden" tulis akun facebook Himma.

(DAL)