Respons BNPT, UI Siap Pecat Mahasiswa yang Terbukti Radikal

Mesha Mediani, CNN Indonesia | Sabtu, 26/05/2018 17:01 WIB
Respons BNPT, UI Siap Pecat Mahasiswa yang Terbukti Radikal UI siap pecat mahasiswa soal radikalisme. (ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwars)
Jakarta, CNN Indonesia -- Universitas Indonesia (UI) menjawab tudingan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) yang menyebut bahwa kampus berlogo makara itu sudah disusupi paham radikal.

Kepala Humas dan Komunikasi Informasi Publik (KIP) UI Rifelly Dewi Astuti mengklaim institusinya itu siap menindak tegas mahasiswanya jika terbukti masuk ke dalam organisasi yang bersifat radikal. Bahkan, yang bersangkutan dapat terancam dikeluarkan dari kampus dan dicabut status mahasiswanya alias drop out (DO).

"Ada mekanisme pembuktiannya melalui sidang pelanggaran tata tertib, bervariasi sanksinya. Ada skors dan terberat ya DO," kata Rifelly kepada CNNIndonesia.com, Sabtu (26/5).



Kendati demikian, Rifelly mengklaim UI telah menjalankan mekanisme pencegahan penyebaran radikalisme sejak dini, dimulai dari masa orientasi mahasiswa baru.

Termasuk, penerapan mata kuliah Pengembangan Kepribadian Terintegrasi (MPKT) sebagai mata kuliah wajib universitas yang diberikan kepada mahasiswa baru pada semester pertama. Materinya antara lain logika, filsafat Ilmu, dan Pancasila.

"Selain itu melalui mata kuliah terpadu (MPKT) juga dimasukkan topik-topik terkait bela negara dan kebangsaan terus ditanamkan bagi mahasiswa UI," ujarnya.


Rifelly menuturkan UI melalui para dosen agama dan dosen pembimbing seluruh organisasi keagamaan juga telah mengimbau para mahasiswa untuk dapat bersatu menjaga keharmonisan dan menjunjung tinggi sikap torelansi di dalam bersosialisasi.

Rifelly juga mengklaim UI sigap mengawasi segala bentuk aktivitas mahasiswa di lingkungan kampus.

"Lebih dari itu, melalui Forum Kebangsaan, UI berupaya menggali solusi untuk berbagai permasalahan yang dihadapi negeri ini termasuk salah satunya masalah terorisme," ujarnya.


Sebelumnya, Direktur Pencegahan BNPT Hamli mengatakan hampir semua perguruan tinggi negeri (PTN) di Pulau Jawa sudah terpapar paham radikalisme. Dengan tingkat paparan yang bervariasi.

Selain UI, kampus yang disebut Hamli antara lain Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Diponegoro (Undip), hingga Insitut Teknologi Surabaya (ITS), Universitas Airlangga (Unair), dan Universitas Brawijaya (UB).

Dia menjelaskan pola penyebaran paham radikalisme yang berkembang di lingkungan lembaga pendidikan saat ini sudah berubah. Awalnya penyebaran paham tersebut dilakukan di lingkungan pesantren.

Namun saat ini, kampus negeri maupun swasta menjadi sasaran baru dan empuk bagi penyebar radikalisme.


(DAL/asa)