Senyum Pelayan Restoran Menyapa Emosi Para Pemburu Takjil

Mesha Mediani, CNN Indonesia | Rabu, 06/06/2018 17:36 WIB
Senyum Pelayan Restoran Menyapa Emosi Para Pemburu Takjil Suasana restoran. (CNN Indonesia/Suriyanto)
Jakarta, CNN Indonesia -- Senyum Peni Lubis tak putus selama dia berdiri di depan pintu masuk sebuah restoran Jepang di kawasan Sudirman, Jakarta Selatan. Manajer operasional restoran tersebut senantiasa ramah menyapa pengunjung yang datang, sembari mengucapkan terima kasih kepada pengunjung yang pulang.

Waktu menunjukkan pukul 20.04 WIB dan Peni telah berdiri dari pukul 17.00 WIB, sesaat sebelum azan magrib. Tak tampak kelelahan di wajahnya, meski baru membatalkan puasa dengan air mineral. Pulasan bedak dan lipstik membuatnya terlihat segar.

Namun, hanya satu kalimat yang keluar dari mulutnya ketika saya menanyakan suka duka bekerja di bulan puasa.



"Wah, sedih, Mbak," ujarnya sambil menyandarkan badan ke meja.

Peni lantas bercerita polah tingkah pengunjung restoran all you can eat tempatnya bekerja itu. Sejak bekerja tahun 1997, berbagai karakter pengunjung telah dihadapinya. Istilah Peni, 'sudah khatam'.

Menurutnya, ada perbedaan karakter antara pengunjung yang datang saat hari-hari biasa dengan bulan Ramadan.

"Pas puasa, tamu lebih galak, lebih gampang emosi, dan lebih tidak toleran. Maunya diduluin terus. Padahal, sudah ada nomor antrian tetapi tetap saja mereka enggak mau tahu," kata Peni.

Restoran tempat Peni bekerja telah berdiri selama 30 tahun. Untuk bisa menyantap sajian yakiniku dan shabu-shabu di sana, tak jarang pengunjung harus mengantre hingga puluhan nomor.


Kadang-kadang, kata Peni, banyak tamu yang berkeras ingin didahulukan mendapat meja karena membawa 'sedikit' rombongan, tak peduli seberapa panjang antrean mengular.

Umumnya, Peni menyebut pengunjung 'ogah' mengantre hingga akhirnya yang bersangkutan protes, marah, atau meninggalkan tempat. Peni dan staf pun dilema, sebab pengunjung memintanya memastikan berapa menit waktu antrean.

Seyum Pelayan Restoran Menyapa Emosi Saat Berbuka PuasaPeni Lubis, manajer operasional sebuah restoran Jepang di kawasan Sudirman, Jakarta Selatan. (CNN Indonesia/Mesha Mediani)
Di sisi lain, restoran tak berwenang 'mengusir' pengunjung meski sudah mendiami meja selama lebih dari dua jam.

"Itu paling sedih kalau menerima komplain karena mereka enggak mengerti keadaan. Alasannya, 'Saya lapar, saya puasa.' Padahal, kan sama. Saya juga puasa," kata Peni menghela napas.

Obrolan kami terhenti ketika ada dua pengunjung masuk. Mereka ingin memesan 10 kursi untuk berbuka puasa keesokan harinya.

Peni pun memberi tahu bahwa tidak ada lagi kursi tersedia selain pada akhir pekan.

"Yah, Mbak. Bisain dong. Sudah jauh-jauh nih," ujar salah satu dari mereka.

"Beneran penuh, Mbak. Nih saya tunjukin," jawab Peni seraya menunjukkan buku daftar tamu yang banyak coretan pulpen.


Keduanya pun meninggalkan restoran dengan raut kecewa.

Sambil tertawa kepada saya, Peni berujar, "Nah, kayak gitu tuh contohnya. Hahaha."

Kemudian, Peni menuturkan banyak tamu yang terlalu ingin 'dimanja'. Misalnya, mereka meminta diambilkan nasi, lauk pauk, sendok, garpu, dan sebagainya. Padahal, restoran tersebut bersistem prasmanan. Artinya, pengunjung dipersilakan memilih dan mengambil sendiri hidangan di meja.

"Karena tamu di Indonesia sudah punya predikat 'Tamu adalah raja.' Mereka semua minta dilayani. Padahal, restoran ini sistemnya buffet," ujarnya.

Perlakuan kasar secara verbal dari pengunjung pun pernah diterima Peni dan stafnya selama bekerja. Ironisnya, perlakuan itu juga terjadi saat Ramadan.

Peni mengisahkan pernah diteriaki dengan makian hewan oleh pengunjung yang murka karena harus mengantre.

"Pernah juga saat saya di (restoran cabang) Bintaro Plaza, dia enggak mau masuk waiting list. Dia teriak-teriak di tengah restoran, 'Saya mau makan! Saya lapar!' Terus pas istrinya minta maaf sama saya, istrinya dimarahi," kenang Peni.

Peni mengaku cuma bisa tertawa sesudah itu. "Tamu lebih aneh pas puasa," ujarnya.

Ada pula pengunjung yang kerap 'membawa-bawa' nama pemilik restoran sebagai keluarga atau kerabatnya dan membuat Peni jengkel. Kendati demikian, Peni telah diinstruksikan oleh si pemilik restoran untuk mengabaikan pengunjung seperti itu dan tetap melayani sesuai prosedur.

Seyum Pelayan Restoran Menyapa Emosi Saat Berbuka PuasaAneka sajian untuk menu berbuka puasa. (CNN Indonesia/Christina Andhika Setyanti)
Pengunjung berkarakter sama juga sering ditemui Andini saat Ramadan. Wanita 20 tahun itu bekerja di sebuah restoran cepat saji di Sudirman. Keluhannya sama dengan Peni, yakni pengunjung yang sulit mengontrol emosi.

"Pas puasa lebih enggak sabaran. Gampang marah. Perempuan rata-rata," ujarnya.

Namun, Andini mengaku selalu berusaha melayani seluruh pengunjung dengan sopan dan ramah walau banyak di antara mereka yang meributkan hal sepele.

Perlakuan Berbeda

Peni tak melulu menerima perlakuan kurang menyenangkan dari pengunjung saat Ramadan. Dia mengaku banyak pula pengunjung-terutama pelanggan tetap-yang bersikap manis kepadanya.

Suatu ketika ada pengunjung yang membawakan kue untuk Peni dan staf saat Hari Raya Idul Fitri. Bahkan, ada pula yang memberikan tunjangan hari raya (THR).

"Ada yang ajak kami ke pesta ulang tahun anaknya. Sedekat itu, ada. Lalu, dia dari luar kota atau luar negeri, bawa oleh-oleh buat kami. Mereka yang langganan rata-rata," kata Peni.


Mengakhiri perbincangan kami, Peni pun berpesan kepada seluruh pengunjung restoran, termasuk pengunjung warung kaki lima sekalipun untuk lebih menghargai pelayan dengan bersikap baik.

"Kami kan juga manusia, ya. Memanusiakan manusialah. Minta supaya mereka lebih sabar dan mengerti keadaan kami karena kerjaan kami kan banyak juga," ucapnya. (pmg)