Seperti hari ini, Kamis (24/5), Lili cs tetap bertanggung jawab atas pekerjannya di wilayah Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat.
Saat ditemui CNNIndonesia.com, Lili pun tampak bersemangat menjalankan pekerjaannya. Bahkan senyum pun sesekali mengembang di wajahnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lili mengungkapkan memang tak ada sistem khusus yang diterapkan bagi para pasukan oranye di Ramadan ini. Juga tak ada kesulitan berarti bekerja di siang hari sembari puasa.
"Kalau mau buka paling langsung ke Dana Reska atau ke Balai Kota, di masjidnya kan bagi-bagi makanan dan boleh buat siapa saja," tutur ibu dua anak ini.
Tarawih
Satu hal yang agak Lili sulit lakukan di bulan Ramadan ini, yakni salat tarawih. Dia mengakui sukar untuk tarawih karena masjid atau lokasi tarawih cukup jauh dari tempat dia membersihkan jalan.
"Misalnya pas lagi nyapu di depan sini (depan Wisma Antara) terus harus cari tempat tarawih suka jauh," ungkapnya.
Lili pun mengakui belum pernah melaksanakan salat tarawih selama Ramadan tahun ini. Lili yang telah bekerja sebagai pasukan oranye selama satu tahun ini, lebih memilih untuk fokus menyelesaikan pekerjaannya.
Meski menurut Lili sebenarnya tak ada larangan bagi para pasukan oranye untuk tarawih di tengah bekerja. Solusinya, paling Lili dkk harus menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat agar masih bisa tarawih.
Misal, jika biasanya 'bilas'--istilah para pasukan oranye untuk memastikan lokasi tempatnya bekerja sudah bersih dari sampah--dilakukan mulai sekitar pukul 19.30, maka jika ingin tarawih, 'bilas' harus dilakukan lebih cepat seperti dimulai sejak pukul 18.30.
Nantinya, mereka tinggal melaporkan komandan regu di grup Whatsapp bahwa akan melakukan 'bilas' lebih cepat karena hendak tarawih.
"Yang penting laporan saja, biar komandannya tahu. Tapi yang pasti enggak ada larangan," kata Lili.
Lain halnya dengan Sahrul (33) yang bertugas di Jalan Medan Merdeka Barat. Ia mengaku selalu meluangkan waktu untuk tarawih. Karenanya, ia berusaha lebih cepat dalam menyelesaikan pekerjaannya.
"Sudah biasa, jadi bisa atur tenaga," ujar Sahrul.
Pasukan oranye tetap menjalankan puasa Ramadan di tengah padatnya aktivitas membersihkan ibu kota. (ANTARA FOTO/Reno Esnir). |
"Itu kan sampai bakar ban juga ya, dan kita baru bisa bersih-bersih pas udah selesai," ungkapnya
Sementara itu, untuk beban kerja, Sahrul mengaku lebih ringan selama Ramadan ini. Sebab, tidak banyak pedagang yang berjualan, sehingga tidak terlalu banyak sampah yang harus dibersihkan. Ia juga mengaku tak ada yang berbeda antara bekerja di Ramadan atau di bulan-bulan lainnya.
Berharap THR
Selain persoalan menunaikan ibadah di tengah bekerja, Lili maupun anggota PPSU lain juga punya harapan di bulan Ramadan ini. Dia berharap dapat Tunjahan Hari Raya (THR) seperti kebanyakan pekerja di bidang lain.
Sebetulnya, pasukan oranye dapat gaji ke-13 pada tahun lalu. Mereka menganggap gaji itu sebagai THR.
"Tahun lalu itu bukan THR sih, tapi istilahnya gaji ke-13, tapi itu THR kalau buat kita," ujarnya.
"Ya pengennya sih lebih besar waja," kata Lili sembari tertawa.
Di sisi lain, Sahrul yang belum genap bekerja selama satu tahun pun mengaku berharap ada THR tahun ini. "Ya berharapnya bisa dapat THR," ujarnya.
Meski dia sudah mendapat informasi perihal para pekerja yang belum genap satu tahun tidak akan mendapatkan THR utuh alias tidak satu kali gaji. Karena pada tahun sebelumnya, dia mendengar dari anggota PPSU lainnya, bahwa gaji ke-13 yang diterima sama semuanya, baik yang sudah setahun maupun yang belum setahun.
"Kalau tahun lalu itu katanya enggak di-bedain yang sudah satu tahun atau belum," ucap Sahrul. (osc/sur)
Pasukan oranye tetap menjalankan puasa Ramadan di tengah padatnya aktivitas membersihkan ibu kota. (ANTARA FOTO/Reno Esnir).