"Medsos mahasiswa akan dicari, kami lakukan penelusuran, gimana sih jejaknya. Profiling gitu agar terhindar (dari radikalisme)," ujar Nasir di Hotel Bidakara, Jakarta, Kamis (7/6).
Nasir mengatakan penelusuran akun medsos milik mahasiswa merupakan salah satu cara mencegah berkembangnya paham radikal di perguruan tinggi. Hasil temuan Kemristekdikti menunjukkan masih ada mahasiswa yang memperoleh ilmu atau pengetahuan tentang paham radikal dari medsos.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Itu bagian yang perlu diperhatikan, diwaspadai, supaya aman segala kaitannya," katanya.
Jika dalam akun medsos itu terindikasi berkaitan dengan paham radikal, Nasir meminta pihak kampus segera memanggil mahasiswa yang bersangkutan. Mahasiswa itu selanjutnya akan dibina agar kembali pada asas Pancasila.
Ia juga telah berencana memanggil seluruh rektor perguruan tinggi negeri dan Direktur Lembaga Kopertis untuk menindaklanjuti penyebaran radikalisme di kampus-kampus pada 25 Juni mendatang.
Dalam pertemuan itu ia akan membahas pola penyebaran paham anti-Pancasila yang berisiko terjadi di seluruh kampus se-Indonesia.
Berdasarkan data BNPT sebelumnya terdapat tujuh PTN yang terdeteksi menjadi tempat persemaian bibit radikalisme di antaranya yakni UI, ITB, IPB, dan UNDIP. Nasir menegaskan instansinya akan terus berupaya memberantas radikalisme dengan menginstruksikan para rektor se-Indonesia. Nasir menyatakan ia akan mengumpulkan mereka pada 25 Juni mendatang, termasuk untuk berbincang bersama Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dan Kemenkopolhukam.