Direktur Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan Kemenristekdikti Muhammad Dimyati mengatakan,indeks produktivitas multifaktor (multifactor productivity/MFP) Indonesia tahun 2018 ini baru mencapai angka 16,7 dari target angka 20. Indikator tersebut mencerminkan ketersediaan tenaga kerja dan perputaran ekonomi.
Sementara negara Asia lain seperti Korea Selatan, indeks MFP-nya sudah mencapai angka 60.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Melalui perpres itu, Kemenristekdikti bertugas menjadi koordinator bagi kementerian/lembaga/pemerintah daerah dan pemangku kepentingan untuk menyusun rencana aksi dalam pelaksanaan Riset Nasional demi meningkatkan indeks MFP Indonesia.
Sehingga, terjadi tumpang tindih riset dengan judul yang sama. Alhasil, riset menjadi tidak terfokus dan penerapannya kurang efektif.
Hal itulah yang dikritik oleh Menristekdikti Mohamad Nasir.
Beberapa waktu lalu, Nasir mempertanyakan anggaran Rp24,9 triliun untuk riset yang hasilnya justru duplikasi dan tumpang tindih.
Dimyati menjelaskan, anggaran Rp24,9 triliun adalah anggaran riset dari pemerintah pusat, termasuk gaji, pembelian bahan-bahan, dan untuk riset itu sendiri. Namun, anggaran untuk risetnya sendiri hanya Rp10,9 triliun dari Rp24,9 triliun itu.
Untuk mencegah duplikasi dan tumpang tindih riset berulang, Kemenristekdikti telah menetapkan sembilan bidang Riset dalam perencanaan riset nasional.
"Oleh karena itu, dari Rp10,9 triliun itu harus difokuskan pada bidang tertentu. Sehingga, nanti duplikasi sangat kecil," kata Dimyati.
Kesembilan bidang itu yakni pangan, energi, kesehatan, transportasi, produk rekayasa keteknikan, pertahanan dan keamanan, kemaritiman, dan sosial humaniora. Sementara bidang riset lainnya ditentukan oleh menteri.
"Sehingga, nanti pada tahun tertentu kita kuat pada bidang-bidang yang kita pilih itu," kata Dimyati. (age)