Mereka yang Tak Mudik dan Kedamaian Sejenak di Jakarta

Kustin Ayuwuragil, CNN Indonesia | Selasa, 12/06/2018 09:44 WIB
Mereka yang Tak Mudik dan Kedamaian Sejenak di Jakarta Jakarta punya sisi lain saat momen lebaran, tanpa bising kendaraan maupun kerumunan orang banyak. Warga yang tak pulang kampung menyambut bahagia kondisi ini. (CNN Indonesia/Safir Makki).
Jakarta, CNN Indonesia -- Jakarta punya magnet untuk para pemimpi dan pengadu nasib. Jutaan jiwa penghuninya merupakan perantau dari berbagai daerah, membuat Ibu Kota penuh sesak di hampir setiap sudutnya. Namun saat para perantau kembali ke kampung halaman untuk mudik lebaran, Jakarta menjadi lengang.

Menjelang Lebaran seperti saat ini, jalanan Ibu Kota tampak lengang seiring dengan derasnya arus mudik ke berbagai daerah. Kondisi itu merupakan satu 'berkah' bagi banyak orang yang terpaksa tetap tinggal saat Hari Raya Idul Fitri nanti. Sebab Jakarta menjadi lebih tenang dan damai, tanpa bising kendaraan dan lalu lalang orang.

"Situasi di Jakarta jauh lebih tenang dan damai, jauh dari hirup pikuk ramai dan sibuk seperti biasanya," kata seorang warga Agnesius Susanto pada CNNIndonesia.com, Senin (11/6).


Santo, sapaannya, satu dari sekian banyak orang yang terpaksa tak mudik. Sebab ia tak punya 'kampung' di Indonesia karena kakek neneknya perantau kelahiran Tionghoa. Keluarganya selama ini juga sering berpindah-pindah tempat tinggal dan kini menetap di Tangerang, Banten.

Tak punya 'kampung' juga jadi alasan Abadiah Dzuliati dan Harianto untuk tak mudik. Mereka dulunya punya saudara di luar Jakarta, namun seluruh keluarganya kini justru memilih berkumpul di Jakarta setiap Lebaran.

Alhasil, mereka memilih berekreasi di tempat wisata atau mal. Ruang-ruang terbuka (RPTRA) dan taman kota menurut Harianto juga sangat asyik dijadikan tempat untuk mendapatkan waktu berkualitas dengan keluarga, baik untuk berkumpul atau berolahraga.

"Sukanya (Lebaran di Jakarta) banyak sih, enggak macet, keluarga dari luar daerah atau luar negeri jadinya kumpul semua di Jakarta. Enggak perlu ribet pulang kampung," tambah Abadiah.

Sementara warga Jakarta lainnya Haries Maulana Akbar dan Marini Sihombing mengeluhkan harga tiket yang sangat tinggi sebagai alasan tak pulang kampung. Sebagai gantinya, mereka memilih untuk menggunakan dana pulang kampung untuk bepergian dengan teman di Jakarta atau sekitarnya.

"Sebenarnya sih bisa saja ambil jalur darat, naik bus, lebih murah. Cuma lama di jalan, banyak hari yang terbuang. Akhirnya di kampung cuma beberapa hari doang, jadinya juga Lebaran-nya nggak kerasa kalau cuma sebentar di kampung," ujar Haris bercerita soal perjalanannya jika nekat pulang ke Padang, Sumatera Barat.

Namun berada di Jakarta saat Lebaran tentu membuat pula duka bagi mereka yang tak bisa pulang kampung. Waktu yang seharusnya bisa dihabiskan bersama keluarga harus dilalui sendiri jauh dari kampung halaman.

Hal itu dirasakan Haries yang mendapat dukungan dari keluarganya untuk tidak pulang dulu selama musim Lebaran. Menurut dia, dananya pun bisa dimasukkan untuk tabungan.

"Paling ya nggak bisa Lebaran bareng keluarga aja sih. Di lain sisi juga ya jadi bisa nabung," kata dia.
Mereka Tak Punya 'Kampung' dan Secuil Kedamaian untuk JakartaPerbandingan kepadatan kendaraan di Jalan Layan Non Tol (JLNT) Kampung Melayu-Tanah Abang di Kawasan Kuningan, pada saat hari kerja (kiri) dan libur Lebaran (kanan). (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono).
Sementara Harianto mengungkapkan bahwa momen Lebarannya menjadi tak sempurna tanpa adanya sungkem ke kakek-nenek di kampung.

"Biasa Lebaran sungkeman ke nenek atau kakek. Ya gitu deh, momen kekeluargaannya jadi kurang perfect," kata dia.

Abadiah pun sama. Saking sudah lamanya tak mudik, dia merasa telah lupa rasanya mudik untuk berkumpul keluarga.

Lain dengan yang lain. Marini atau yang sering disapa Rini punya hal tak mengenakan saat momen mudik dan lebaran ini. Ia yang memang tak pulang kampung ini kesulitan mencari makanan di sekitar tempat kosan karena warung langganannya tutup. Alhasil, pengeluarannya membengkak karena harus membeli makanan di mal yang tetap buka.

Di sisi lain, Santo mengaku sedih karena dia tidak bisa mengunjungi tempat-tempat di mana dia pernah dibesarkan. Dia juga merasa hubungan antara keluarga besarnya menjadi kurang intim.

"Relasi antar keluarga besar pun kurang erat, dan jika berkumpul hanya cenderung sebagai formalitas," tuturnya.

Kendati demikian, ketenangan Jakarta seperti ini diharapkan terus berlanjut meski musim mudik sudah usai.

"(Harapannya) Jakarta bisa tetap rapih dan tertata seperti saat ini di kala bukan waktunya mudik saja," pungkas Santo. (osc)