Menjelang Lebaran seperti saat ini, jalanan Ibu Kota tampak lengang seiring dengan derasnya arus mudik ke berbagai daerah. Kondisi itu merupakan satu 'berkah' bagi banyak orang yang terpaksa tetap tinggal saat Hari Raya Idul Fitri nanti. Sebab Jakarta menjadi lebih tenang dan damai, tanpa bising kendaraan dan lalu lalang orang.
"Situasi di Jakarta jauh lebih tenang dan damai, jauh dari hirup pikuk ramai dan sibuk seperti biasanya," kata seorang warga Agnesius Susanto pada CNNIndonesia.com, Senin (11/6).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tak punya 'kampung' juga jadi alasan Abadiah Dzuliati dan Harianto untuk tak mudik. Mereka dulunya punya saudara di luar Jakarta, namun seluruh keluarganya kini justru memilih berkumpul di Jakarta setiap Lebaran.
"Sukanya (Lebaran di Jakarta) banyak sih, enggak macet, keluarga dari luar daerah atau luar negeri jadinya kumpul semua di Jakarta. Enggak perlu ribet pulang kampung," tambah Abadiah.
"Sebenarnya sih bisa saja ambil jalur darat, naik bus, lebih murah. Cuma lama di jalan, banyak hari yang terbuang. Akhirnya di kampung cuma beberapa hari doang, jadinya juga Lebaran-nya nggak kerasa kalau cuma sebentar di kampung," ujar Haris bercerita soal perjalanannya jika nekat pulang ke Padang, Sumatera Barat.
Namun berada di Jakarta saat Lebaran tentu membuat pula duka bagi mereka yang tak bisa pulang kampung. Waktu yang seharusnya bisa dihabiskan bersama keluarga harus dilalui sendiri jauh dari kampung halaman.
Hal itu dirasakan Haries yang mendapat dukungan dari keluarganya untuk tidak pulang dulu selama musim Lebaran. Menurut dia, dananya pun bisa dimasukkan untuk tabungan.
"Paling ya nggak bisa Lebaran bareng keluarga aja sih. Di lain sisi juga ya jadi bisa nabung," kata dia.
Perbandingan kepadatan kendaraan di Jalan Layan Non Tol (JLNT) Kampung Melayu-Tanah Abang di Kawasan Kuningan, pada saat hari kerja (kiri) dan libur Lebaran (kanan). (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono). |
"Biasa Lebaran sungkeman ke nenek atau kakek. Ya gitu deh, momen kekeluargaannya jadi kurang perfect," kata dia.
Lain dengan yang lain. Marini atau yang sering disapa Rini punya hal tak mengenakan saat momen mudik dan lebaran ini. Ia yang memang tak pulang kampung ini kesulitan mencari makanan di sekitar tempat kosan karena warung langganannya tutup. Alhasil, pengeluarannya membengkak karena harus membeli makanan di mal yang tetap buka.
Di sisi lain, Santo mengaku sedih karena dia tidak bisa mengunjungi tempat-tempat di mana dia pernah dibesarkan. Dia juga merasa hubungan antara keluarga besarnya menjadi kurang intim.
"Relasi antar keluarga besar pun kurang erat, dan jika berkumpul hanya cenderung sebagai formalitas," tuturnya.
Kendati demikian, ketenangan Jakarta seperti ini diharapkan terus berlanjut meski musim mudik sudah usai.
"(Harapannya) Jakarta bisa tetap rapih dan tertata seperti saat ini di kala bukan waktunya mudik saja," pungkas Santo. (osc/sur)
