Polah Penukaran Uang Pinggir Jalan Jelang Idul Fitri

Fachri Fachrudin, CNN Indonesia | Kamis, 14/06/2018 08:13 WIB
Polah Penukaran Uang Pinggir Jalan Jelang Idul Fitri Penjaja tukar uang menawarakan jasanya kepada pedagang pecahan uang baru di pinggir jalan Kalimalang, Jakarta Timur, Senin (11/6). (CNN Indonesia/Fachri Fachruddin)
Jakarta, CNN Indonesia -- Hari itu, jarum jam di tangan menunjukkan sekitar pukul 10.00 WIB. Mona Lidia menunggu pengemudi ojek daring (online) datang menjemputnya untuk diantar ke Jalan Inspeksi Saluran Kalimalang, Jakarta Timur.

Di sana, warga Pulomas itu bermaksud menjajakan pecahan uang baru kepada pengguna jalan jelang hari raya Idul Fitri 1439 H. Mona mengatakan biasanya untuk usahanya ini ia membawa total belasan hingga puluhan juta rupiah dalam tas yang dibawanya.

Mona mengakui tas yang ia bawa bisa mengundang kejahatan, oleh karena itu dia punya trik untuk menghindari kriminalitas atas dirinya karena total uang tunai yang dipegangnya.


Dua di antaranya adalah trik saat menuju tempat menjajakan uang, dan kiat membawa tas berisi uang berbagai pecahan rupiah dengan total jutaan tersebut.


Di pinggir jalan Kalimalang yang menjadi penghubung DKI Jakarta dan Kota Bekasi tersebut, Mona mengeluarkan sampel kumpulan pecahan uang yang sudah dikemasnya dalam plastik transparan. Ada pecahan Rp 20.000, Rp10.000, Rp5.000, Rp2.000, dan Rp1.000.

Setelah itu, Mona melambai-lambaikan tangan kirinya yang penuh uang kepada para pengendara yang melintasi jalan tersebut. Sebuah potongan kardus yang diikat di tasnya menjadi semacam papan pengumuman mengenai apa yang dilakukan Mona.

'Tukar Uang 100% Asli Baru,' demikian tertulis pada papan pengumuman tersebut.

Mona mengakui Idul Fitri membawa berkah tersendiri bagi dirinya. Sebab dengan menjadi penjual uang, ia bisa menambah pemasukan untuk keluarganya.

"Keuntungannya jasa penukaran 10 persen. Jadi, misalnya masnya mau nukar uang [dengan berbagai pecahan rupiah] sebanyak Rp100 ribu, maka masnya kasih saya Rp110 ribu," ucap Mona kepada CNNIndonesia.com, Senin (13/6).

Tahun lalu, kata Mona, dirinya total mendapatkan keuntungan bisnis tukar uang ini hingga sebesar Rp3,5 juta dari modal Rp35 juta. Pada tahun ini, katanya, ia menggelontorkan tambahan modal menjadi Rp50 juta.

Kini, sejak H-6 hingga H-3, Mona mengaku sudah menjual lebih dari Rp19 juta.

Mona akan 'menutup tokonya' menjelang waktu magrib. Dia mengaku tidak mau berjualan hingga malam hari demi mencegah tindakan kriminal, apalagi penerangan di jalan tersebut tak memadai.

"Kalau malam kurang penerangan di sini. Padahal Jalan Kalimalang sebenarnya jalur mudik. Potensial untuk penukaran uang," tutur Mona.

Polah Penukaran Uang Pinggir Jalan Jelang Idul FitriPengendara motor melakukan penukaran uang dengan pedagang pecahan uang baru di pinggir jalan Kalimalang, Jakarta Timur, Senin (11/6). (CNN Indonesia/Fachri Fachrudin)

Ditawar Seperti Barang dan Dianggap Uang Palsu

Mona mengisahkan pengalamannya bernegosiasi dengan calon konsumen bisnis penukaran uang ini. Berbagai karakter calon pembeli sudah ia mafhumi dalam menjalankan bisnis ini mulai dari tudingan lembaran pecahan uang yang dijajakan palsu hingga melakukan penawaran pengurangan ongkos bak barang di pasar.

Mona mengatakan, kebanyakan calon pelanggannya yang menawar justru menggunakan kendaraan roda empat. Potongan harga yang diminta pun tidak tanggung-tanggung, yakni 6 - 8 persen. Terhadap pelanggan yang seperti itu, Mona mengaku akan menolaknya secara halus.

"Karena di semua tempat sama, dilebihkan 10 persen dari jumlah uang yang mau ditukar," kata Mona.

Sedangkan terhadap calon pelanggan yang curiga bahwa uang miliknya adalah palsu, Mona menanggapi dengan canda agar orang tersebut tidak merasa tersinggung.

"Pak, malah saya takut uang bapak yang palsu," ucap Mona.

Cerita serupa diungkapkan Sari, penjual uang yang juga 'membuka gerai' di salah satu titik Jalan Inspeksi Saluran Kalimalang.

"Banyak yang nawar, malah naik mobil minta agar hanya lebih 2 persen. Saya enggak kasih lah, sedangkan kami jualan kena panas-panasan, hujan-hujanan," kata Sari.

Ia menambahkan, pada Minggu (10/6) dirinya berhasil menjual sebanyak Rp4 juta dari pukul 11.00 WIB hingga 18.30 WIB. Sementara sejak H-6 hingga H-4 sudah belasan juta rupiah uang yang ia dagangkan.


Penukaran yang Praktis

Salah seorang konsumen penukaran uang di pinggir jalan, Nuryansyah mengaku dirinya memilih memecahkan uangnya dengan penjaja di pinggir jalan karena kepraktisan. Sebab, dirinya tidak harus mengantre lama di bank hanya untuk menukarkan sejumlah uang.

"Saya paling nukerin-nya Rp1 juta pecahan Rp5 ribu atau Rp10 ribu. Daripada antre di bank atau loket penukaran uang mending di sini, enggak antre. Jadi ini sebenarnya membantu," kata Nuryansah.

Mengenai keuntungan sebesar 10 persen dari jumlah uang yang ditukarkan, ia pun tak mempersoalkan. Menurutnnya keuntungan sebesar itu masih terbilang wajar jika membandingkan dengan harus mengantre di loket penukaran uang Bank.

"Keuntungannya masih wajar dari pada antre, lama, capek dan uang yang ditukerin juga enggak banyak, paling sejuta," kata dia.

Ia mengatakan, uang tersebut akan dibagikan ke seluruh keponakan dan anak-anak tengganya di kampung halaman saat hari raya.

"Ya tradisinya begitu, lebaran kita bagi-bagi rezeki buat anak-anak, ponakan, tetangga," kata dia. (kid/kid)