Fahri Nilai MUI Perlu Keluarkan Fatwa Haram Kunjungi Israel

Abi Sarwanto, CNN Indonesia | Kamis, 14/06/2018 10:50 WIB
Fahri Nilai MUI Perlu Keluarkan Fatwa Haram Kunjungi Israel Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah berpendapat sebaiknya MUI mengeluarkan fatwa haram bagi seorang WNI muslim untuk mengunjungi Israel. (CNN Indonesia/Artho Viando)
Jakarta, CNN Indonesia -- Wakil Ketua DPR RI Fahri Hamzah mengusulkan kepada Majelis Ulama Indonesia (MUI) agar mengeluarkan fatwa larangan bagi seorang warga negara Indonesia (WNI) muslim untuk datang ke wilayah Israel.

Fahri mengusulkan itu menyusul polemik lawatan anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) Yahya Cholil Staquf ke Israel untuk menghadiri konferensi tahunan Forum Global AJC.

"Untuk menghindari terjadinya peristiwa yang sama, MUI perlu mengeluarkan fatwa haram mengunjungi Israel. Sebab, itu melanggar komitmen kebangsaan kita untuk memerdekakan Palestina," kata Fahri lewat pesan singkat yang diterima wartawan, Kamis (14/6).



Fahri menganggap kedatangan Yahya ke Israel telah menodai konsistensi dukungan Indonesia pada kemerdekaan Palestina sejak tahun 1947.

Menurut Fahri fatwa haram diperlukan karena Israel kerap mempolitisasi kedatangan WNI dengan menunjukkan seolah melindungi dan mempromosikan perdamaian di Palestina.

"Padahal sesungguhnya, setiap hari mereka melakukan kejahatan dan melakukan penjajahan dan penindasan," katanya.

Kolega Fahri, Wakil Ketua DPR Fadli Zon pun menilai kunjungan Yahya ke Israel telah kontraproduktif dengan sikap politik luar negeri Indonesia yang sejak 1947 konsisten mendukung kemerdekaan Palestina.

Selain itu kunjungan itu disebut bisa melanggar konstitusi dan Undang-Undang Nomor 37 Tahun 1999 tentang Hubungan Luar Negeri.

"Dalam konstitusi kita tertulis tegas penentangan segala bentuk penjajahan. Dan Israel, berdasarkan serangkaian Resolusi yang dikeluarkan PBB, merupakan negara yang telah melakukan banyak pelanggaran kemanusiaan terhadap Palestina," kata Fadli dalam keterangannya kepada wartawan, Rabu (13/6).


Sebelumnya Yahya Staquf, anggota Dewan Pertimbangan Presiden, sekaligus Katib Aam PBNU lewat suratnya menegaskan dirinya pergi ke Israel atas nama pribadi.

"Senyatanya, saya datang kesini bukan atas nama Indonesia, negeri asal saya, bukan pula atas nama Nahdlatul Ulama, organisasi tempat saya mengabdi. Saya datang atas nama kegelisahan dan kesedihan saya pribadi. Kegelisahan dan kesedihan yang tumbuh diatas kesaksian saya akan penderitaan orang-orang Palestina," tulis Yahya dalam surat yang diterima CNNIndonesia.com, Selasa (5/6).

(kid)