Seolah tidak takut dengan kendaraan yang berlalu-lalang, mereka tetap ceria berlarian, bahkan ada yang bermain bola di lapangan parkir tepat di pinggir jalan itu.
Kegembiraan para anak pengungsi itu tetap terpancar meski harus tinggal di tenda darurat, bahkan tidak sedikit yang tidur di emperan toko.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya hanya sesekali merasakan Idul Fitri, mungkin saya terakhir merasakan itu ketika saya berumur lima tahun," kata Abdul kepada CNNIndonesia.com.
Mereka tak sendiri, ada tiga ratus pengungsi dari negara konflik lainnya, seperti Somalia, Sudan, Pakistan, dan Afghanistan terpaksa menumpang tenda darurat sembari menunggu untuk direlokasi ke tempat pengungsian yang lebih manusiawi.
Anak asal Somalia lainnya, Abdullah, mengatakan dirinya tetap bersyukur meskipun harus tidur di pinggir jalan karena setidaknya Indonesia lebih aman daripada Somalia.
"Saya harus bersyukur karena masih bisa makan juga dan lebih aman di sini. Kesulitannya ya kalau hujan badan saya basah, tapi tetap ada kemudahan ketika para donatur datang untuk membantu kami," kata Abdullah.
Setelah berbuka puasa, ada dua donatur datang untuk membagikan makanan dan minuman. Saat awal donatur pertama membagikan bantuan, barisan terlihat rapi, tapi ketika stok makanan dan minuman menipis, terjadi kericuhan.
Tangisan dan jeritan anak terdengar memilukan di telinga. Namun, tak lama berselang anak-anak itu kembali ceria bermain bola atau sekedar berlarian.
"Barusan si Abdullah dipukul lalu direbut makanannya oleh anak lainnya. Ini sudah hal yang biasa terjadi di sini ketika para donatur datang. Apalagi kalau donatur itu tidak ada koordinasi dengan koordinator pengungsi Afrika dan Timur Tengah," kata Abdul.
Sontak saja, mobil donatur tersebut dikerumuni orang. Tepat seperti perkataan Abdul, kericuhan lebih parah terjadi, apalagi ketika orang dewasa ikut dalam perebutan makanan dan minuman. Susu bubuk yang harganya mencapai Rp70 ribu tumpah berserakan akibat "pergulatan" ini.
Nasib anak-anak ini masih tidak jelas, pasalnya Rudenim tidak bisa menampung lagi, sementara rumah bantuan dari IOM juga sudah penuh. Per 15 Maret lalu, IOM juga menghentikan pemberian bantuan finansial bagi ribuan pengungsi asing yang terdampar di Indonesia.
Bantuan dari UNHCR juga masih lama karena birokrasi yang cukup alot. UNCHR mengajukan banyak pertanyaan kepada para pencari suaka ini sebelum memutuskan status mereka sebagai "pengungsi resmi."
[Gambas:Video CNN] (has)