Sindo Dharaka merupakan hasil merger dua klub sepak bola dari Dharaka milik TNI dan Samudra Indonesia (Sindo).
Menurut Oryza, penganiayaan terjadi usai pertandingan yang berakhir dengan skor imbang 1-1 itu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sebagai jurnalis, saya mengabadikan peristiwa itu dengan menggunakan kamera ponsel, sehingga saya turun dari tribun. Namun, tiba-tiba ada seseorang yang merampas ponsel saya dan menanyakan kenapa mengambil gambar," kata Oryza seperti dikutip Antara, Kamis (5/7).
"Mereka memukuli saya dan menendang kaki saya saat berdiri tegak. Saya tidak tahu berapa pukulan yang melayang karena saya hanya berusaha melindungi kepala saya karena kalau kepala yang dipukul akan berakibat fatal," katanya.
Penganiayaan dan pengeroyokan yang dilakukan suporter dan pemain Sindo Dharaka menyebabkan luka memar di bagian tubuh Oryza. Panitia pertandingan kemudian membawa Oryza ke Rumah Sakit Jember Klinik.
"Saya akan melaporkan kasus tersebut ke ranah hukum agar diusut tuntas. Kejadian ini membuktikan bahwa pekerjaan jurnalis masih dibawah ancaman pertandingan sepak bola yang seharusnya sportif," katanya.
Sementara, Ketua Umum Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Jember Sigit Edi Maryanto mengutuk keras dan menyesalkan peristiwa kekerasan tersebut.
"Usut tuntas kasus kekerasan yang dialami Oryza," kata Sigit dalam keterangan tertulisnya.
Kata Sigit, PWI mendesak Denpom TNI untuk melakukan pemeriksaan terhadap anggotanya yang diduga terlibat melakukan kekerasan terhadap Oryza, dan meminta kepada kepolisian untuk bertindak cepat atas laporan tersebut.
"Kami juga meminta kepada PSSI sebagai induk sepak bola nasional menjatuhkan sanksi terhadap pemain dan klub Sindo Dharaka," katanya.